Jumat, 04 Mei 2018
A New Me!
Kamis, 24 Agustus 2017
Jangan Dibutakan Dunia ya, Nak.
Jika dilihat lebih dalam, dunia adalah racun yang terbungkus manis. Nikmat sesaat, akherat melarat.
Cinta pada dunia, kadang membuat semua indra tertutup tidak peka. Mata tidak bisa melihat selain keindahan semu, lidah tak jemu mengucap keburukan, telinga hanya mendengar yang tidak semestinya, hidung terus mencium wangi-wangi duniawi, peraba selalu bersentuhan dengan kemudhorotan.
Cinta pada dunia hanyalah cinta yang membunuh perlahan. Cinta yang membuat kita terlena, hanyut, hingga kadang hilang arah.
Tapi dunia memang selalu menjanjikan hawa bahagia, yang bisa membuat makhluk lupa, bahwa disini hanyalah...sementara.
-orangtuamu di masa depan, yang semakin takut melihat dunia
Rabu, 16 Agustus 2017
Kembalinya Pena Merah
Setelah tidur panjang yang cukup lama, akhirnya komunitas menulis bersama mbak- mbak kantor dulu bisa hidup kembali. Pena Merah, adalah semangat awalku tentang menulis. Karena apa? Karena dengan adanya Pena Merah, aku yang dulunya antipati dengan menulis, buku, membaca dan teman- temannya itu, akhirnya terbakar untuk mulai menyalakan semangat menulis sebagai terapi diri.
Semenjak bergabung di Pena Merah, blogku sedikit berisi dengan coret-coretan yang agak berbobot. Kadang kita membahas resensi buku, film, jenis- jenis tulisan, dan sebagainya (walaupun kadang masih banyak curhatnya).
Sebenarnya aku masih dalam fase mencari- cari passionku dalam hidup. Kata orang, passion itu adalah kegiatan yang terus menerus kita lakukan dengan bahagia. Dan menulis, adalah salah satu kegiatan yang sempat kukira sebuah passion. Menulis memang terkadang menjadi obat dikala hati membutuhkan wadah kosong untuk menumpahkan kerandoman diri. Tapi terkadang, ide-ide tulisan hanya sebatas imajinasi liar yang sulit untuk dituangkan, yang belum bisa menjadi nafas, belum menjadi kebutuhan yang selalu dicari.
Dengan hidupnya kembali Pena Merah, besar harapanku kegiatan menulis ini bisa menjadi begitu membahagiakan dalam segala kondisi, dalam segala suasana hati. Pena Merah, mari kita bekerjasama, demi hidup yang lebih produktif lagi.
Rabu, 09 Agustus 2017
Ada Banyak Guru di Sekitar Kita
"Ya Allah, Mbak."
"Dan yang pasti saya masih takut sama Allah mbak, saya masih takut akherat, saya nggak mikir sesempit itu."
Ternyata ya, banyak cara Allah memberikan pelajaran untuk kita. Tidak harus dibangku sekolah, tidak harus dengan guru berseragam. Nyatanya kemarin, dari beliau- beliau ini lah aku belajar banyak tentang kesabaran, ketulusan, tanggung jawab, ketaqwaan, ilmu akherat dan rasa syukur.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dalam rel-Nya. Supaya tidak tersesat, jauh, lebih dalam, hingga lupa jalan pulang.
Senin, 07 Agustus 2017
Sudah Baikkah Kita Sebagai Anak?
Selama ini, kelihatannya orang tualah yang terkesan selalu dituntut. Anak harus baik, anak harus mendapat pendidikan yang layak, kebutuhan anak juga harus terpenuhi, belum lagi keinginan anak yang kadang diluar nalar juga harus dipikirkan dan diupayakan.
Tapi, pernahkah kita balik bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sudah layak untuk diperjuangkan? Apakah kita sudah memberikan kontribusi baik pada orang tua kita? Apakah setimpal yang kita perbuat ke mereka, dengan apa yang kita terima selama ini?
Suatu malam, aku pernah terbersit sesuatu. Sesuatu yang sangat menyakitkan, sehingga membuat aku merasa begitu tidak berguna. Di malam ulang tahun Papa, aku berdoa pada Allah, untuk memohon ampunan pada-Nya atas segala dosa-dosa Papa selama di dunia, untuk dapat diterima segala amal ibadahnya selama hidup, untuk dapat diterangkan dan dilapangkan kuburnya.
Dan sekian detik kemudian, aku menangis sejadi- jadinya bukan karena merindukan sosok Papa. Tapi, perihal apakah aku sudah menjadi anak yang dulu diharapkan orang tuaku, Papa khususnya? Apakah aku malah akan menjadi pemberat orang tuaku saat mereka dihisab nanti? Apakah selama mereka hidup, aku sudah membahagiakan mereka? Apakah perkataan dan perbuatanku sudah menyakiti mereka? Apakah dosa-dosa yang aku perbuat selama ini, akan benar- benar ditanggung mereka di akhirat? Apakah aku sudah benar-benar ikhlas mendoakan mereka disetiap sujudku? Apakah nantinya, pertanggung jawaban mereka atas aku yang mereka didik di dunia ini akan membawa mereka ke surga atau sebaliknya?
Pertanyaan- pertanyaan tadi berkeliaran hebat dikepala. Ternyata, bukan hanya menjadi orang tua sajalah yang berat. Menjadi anak pun, sebenarnya ada kewajiban- kewajiban yang kadang kita anggap remeh. Menjadi seorang anak pun, ada beban yang kita emban, dan itu besar pengaruhnya pada hidup seseorang di akhirat sana.
Nyatanya, doa seorang anak pada orang tuanya lah yang menjadi amalan yang tak putus. Jika kita sebagai anak saja seringkali lupa, bahkan terkadang terlalu menganggap remeh peran kita ini, bagaimana kabar orang tua kita?
Benar jika dikatakan, anak adalah investasi orang tuanya di masa depan. Secara harafiah, mungkin kita menangkapnya adalah anak haruslah disekolahkan setinggi- tingginya supaya mendapat pekerjaan yang lebih layak dari orang tuanya, dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, yang nantinya akan mengangkat derajat orang tuanya.
Namun, jika ditilik lebih dalam, investasi masa depan yang dimaksud mungkin adalah masa dimana mereka sudah tidak ada lagi di dunia, maka akan ada amalan yang tak penah putus dari anak-anaknya. Mereka bisa benar- benar merasakan ketenangan dan kebahagiaan di sana, karena doa yang tulus untuk mereka. Doa- doa tadi bagaikan asupan makanan yang membuat mereka "kenyang" dan terlepas dari "dahaga".
Lalu, baik yang seperti apa yang benar- benar diharapkan kepada kita? Harapan semua orang tua (pun kita yang nantinya akan menjadi orang tua) hanyalah, memiliki anak yang benar- benar bisa menjadi investasi masa depan bagi mereka, yang tidak akan pernah melupakan mereka, walau nantinya raga sudah tidak lagi ada.
ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA
*lagi-lagi self reminder untuk diri, yang kadang seringkali menganggap remeh perihal mendoakan*
Jumat, 14 Juli 2017
tentang bersyukur
orang yang banyak bersyukur, akan merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang jauh dari rasa syukur. orang yang "sempurna" melihat hidupnya, adalah mereka yang bisa melihat sudut pandang lain dari segala nikmat dan cobaan yang diberikan. orang yang mampu menebarkan energi positif untuk lingkungannya, adalah mereka yang mampu menciptakan energi positif itu tadi pada dirinya terlebih dahulu.
kunci dari hidup memang rasa syukur. sesimpel kita sadar bahwa tanpa diminta pun kita sudah mendapatkan hal-hal luar biasa dalam hidup. nikmat sehat, nikmat bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang terkasih, nikmat tidur, nikmat beribadah, nikmat bekerja, bahkan nikmat cobaan sekalipun.
saat rasa syukur kita hadirkan dalam setiap derap langkah yang diambil, kekuatan dan kebahagiaan akan selalu terasa mengelilingi kita.
tapi namanya manusia ya, terkadang tanpa sadar seringkali egois. berharapnya 10 tapi berdoanya 1. mimpinya 100 tapi usahanya 10. belum lagi diembel-embeli ngedumelnya yang 1000 kali lipat.
terima kasih untuk nikmat yang tak pernah putus dan maafkan kami yang seringkali khilaf Ya Allah, jangan biarkan kami kehilangan rasa malu, saat memaksa lebih tapi tidak mau dituntut "lebih".
#selfpunch
Senin, 10 Juli 2017
tentang kesempurnaan
setiap orang sepertinya mudah mengatakannya. tapi realitanya, banyak dari kita yang tanpa sadar hobi men-judge sesuatu dengan embel-embel bahwa sesuatu yang baik, adalah sesuatu yang terlihat sempurna.
fisik harus cantik atau tampan, pekerjaan harus mapan, kendaraan pribadi siap ditumpang, rumah siap huni sebagai papan, anak-anak berhasil terpandang, terkadang menjadi standar tentang kesempurnaan.
sebenarnya kita ini siapa? atau apa? bisa men-judge kesempurnaan dalam bilangan, menilai sesuatu dengan menentukan standar. padahal kita sendiri adalah ciptaan, yang fitrahnya adalah dinilai.
belakangan, aku sedang banyak menemukan standarisasi manusia terhadap manusia itu sendiri. sehingga kesan kesempurnaan hidup adalah mereka yang mampu mencapainya, jika dibawah itu atau tidak sama dengan itu, berarti bersiaplah untuk dicap tidak sempurna.
dan yang menerima "ketidaksempurnaan" itu tadi pun tanpa sadar ikut dalam arus penilaian, menjadikan "patokan" tadi sebagai dasar kebahagiaan. mereka berlomba-lomba menjadi "sempurna", hanya untuk dianggap "ada".
sedih. sedih sekali rasanya, saat kesempurnaan yang seharusnya tidak diagung-agungkan, bahkan harusnya ditiadakan itu, menjadi standar kebahagiaan. kenapa manusia menjadi begitu kejam? menghakimi "ketidaksempurnaan", menjadikan hal itu sesuatu yang menyedihkan.
haloooo, mari kita bangun. bahwa sejatinya kesempurnaan itu bukanlah milik kita. apa yang telah diciptakan pasti ada maksud dan tujuannya. sebagai lakon hidup, strata kita itu sama.
jangan, jangan sampai kita hanya berfokus pada penilaian sesama manusia. jangan, jangan jadikan penilaian manusia sebagai dasar kebahagiaan. jangan, jangan menjadikan dirimu sendiri menyedihkan.
bangun, dan lihatlah sekeliling kita. sadari hal kecil yang ada, rasakan setiap centi bahkan mili nikmat yang sudah diberikan. bahwa sejatinya, nikmat Tuhan itu lebiiiiih dari yang kita fikirkan. lebiiiiih dari yang kita harapkan. lebiiiiih jauuuuuh dari yang kita bayangkan.
karena, jika sebenarnya kita ini adalah proses (sebagai manusia di bumi) dan hasil akhirnya adalah akhirat, maka satu-satunya penentu dan penilai mutlak hanyalah Dia, Sang Maha Pencipta.