Jumat, 06 April 2012

18:04


Senja ini ada rindu. Perlahan tapi pasti, kadarnya bertambah entah batas mana. Ingin sekali dihilangkan namun akhirnya bertambah kuat hingga memuncak. Apa sebenarnya yang mendorong hati ingin melawan? Entah. Atau coba menahan perlahan hingga nanti lenyap sendirinya? Entah.

Angin ini begitu lembut terasa. Membuat aku tersadar bahwa sendiri itu melelahkan. Sosokmu disudut ruangan jauh masih jelas terlihat, walau dinding tinggi membatasi. Aku ingin menari saat desiran angin ini mengingatkan memori. Menari bersama hujan dan dedaunan yang menyisipkan kerinduan.

Aku ingin tetap menari saat senja seperti ini, saat butiran air dari langit membasahi bumi. Menari mengingatmu, sembari tersenyum simpul penuh rindu. Begituuuu menyejukkan. Aku merasa terbang dengan seluruh keindahan kenangan itu. Aku bahagia.

Ternyata saat aku terbangun, ini semua hanya bunga tidurku. Yaaaa ternyata bahagiaku ini hanya mimpi. Hahaha aku tersadar dan lekas beranjak lalu bercermin “Aku akan baik-baik saja”.

Kamis, 22 Maret 2012

Good morning, you..

Aku tak pernah mengerti tiap kali mereka menyebutkan kehebatan dia. Aku juga tak bisa mengerti tiap kali mendengar mereka mengeluh tentang kehororan saat dia marah. Bahkan aku tak pernah sedikit pun mengerti bagaimana bahagianya saat mereka merasakan hangat dekapnya. Yaaa..aku benar-benar buta tentang dia.

Terlalu dini untukku mengingat hal-hal seperti itu, yaaa..aku bahkan lupa hal terakhir yang pernah aku lakukan bersama dengannya. Sepengetahuanku, dia adalah sosok pekerja keras, penyayang dan hebat tentunya. Dan segelintir yang aku ingat adalah, aku pernah merasa sangat nyaman dalam peluknya.

Saat dulu, dimana teman sebayaku memiliki orang yang senantiasa mengantar jemput mereka setiap hari kesekolah, saat melihat  mereka merengek meminta mainan baru lalu tersenyum bahagia, saat melihat mereka melambaikan tangan dan menerima kecupan hangat sebelum masuk ke kelas, saat melihat mereka bermain bersama diakhir pekan, aku benar-benar tidak merasa iri. Apa mungkin aku belum mengerti?

Tapi kenapa saat ini, saat aku perlahan menuju dewasa dan saat dimana seharusnya aku telah terbiasa, aku malah merasa begitu merindukan sosoknya. Aku iri tiap kali melihat, mendengar bahkan membayangkan apa pun tentang dia. Kadang aku berfikir betapa bahagianya mereka yang sampai detik ini masih bisa menceritakan bahkan mengeluh apapun padanya. Kadang aku juga ingin menceritakan kehebatan yang baru dia lakukan, atau bahkan memperlihatkan betapa kompaknya kami. Yaaa..lagi lagi aku bodoh.

Hmm..hai, apa kabar ya? Maaf yaa, aku sudah jarang berkomunikasi denganmu, yaaa kadang aku sibuk dan lupa kewajibanku haha betapa payahnya aku bukan? Maaf juga aku tak bisa mendatangimu tiap akhir pekan seperti orang kebanyakan, mungkin akan setaun sekali..itu pun jika aku pulang kesana. Yaaa karena aku sedang berusaha menuntut ilmu ditempat ini. Maaf juga yaa aku belum bisa menunjukan seseuatu yang berarti untuk dibanggakan, tapi aku janji suatu saat nanti itu pasti. Maaf juga aku gak selalu bisa jagain wanitamu disana, sejujurnya aku juga sangat merindukannya sama sepertimu. Haaaah aku merasa banyak hutang yang masih aku emban saat ini. Doakan saja kebahagiaan buat kita semua yaaa..

Baiklah, pagi ini aku benar-benar merindukan sosokmu. Baik-baik disana ya, karena aku tau tempatmu disana pasti jauh lebih indah dari tempat kami disini. Tidur yang tenang..doa ku selalu menyertaimu, Pa..

Senin, 19 Maret 2012

....seperti aku

Tampaknya kekhawatiranmu itu semakin menjadi. Semakin jelas dan perlahan nyata. Mungkin akan semakin besar, semakin kuat hingga kamu terlihat rapuh dan kecil. Aku tau kamu itu bukan makhluk lemah. Tapi saat melihat kekhawatiranmu itu, aku berfikir bahwa kamu sedang diambang keputus-asaan. Yaaa..mungkin kamu takut untuk menyicipi kekecewaan yang tampaknya akan aku torehkan.

Tapi, aku pun sebenarnya begitu. Begitu sama rasa yang terimpit sesak didada. Rasanya ingin berontak dan meronta, namun tak punya daya. Jika mampu menawar dan meminta sedikit kelonggaran, aku hanya ingin meminta sedikit waktu. Waktu untuk bisa menggapai apa yang dulu pernah kita gantungkan. Mencapai apa yang telah kita letakkan diujung sana. Namun lagi lagi kita tak punya daya. Kita payah.

Sejujurnya aku tidak akan pernah rela melihat sosokmu jatuh dan terpuruk karena aku. Apalagi terlihat bodoh karena melawan sesuatu yang kita anggap tak pernah ada adilnya. Aku lelah mengasihani nasib yang jauh dari harapan.

Bolehkan aku meminta? Tak cukup banyak, namun aku rasa sedikit sulit. Aku hanya meminta, kebahagiaanmu. Bolehkan aku cicipi sedikit saja? Sampai nanti aku tersadar dan ingin segera pulang. Tapi aku yakin.. kamu pasti sedih melihat aku yang berlari dan hilang begitu saja meninggalkan serpihan rindu. Aku tau, kamu tak menyukai bagian perpisahan. Aku tau, kamu pasti sangat menyayangkan semuanya. Aku hanya tak mau lukamu itu semakin mengeroak membesar dan semakin sulit disembuhkan. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, dengan sesuatu yang lebih nyata. Tidak samar dan buram, seperti aku

Jumat, 10 Februari 2012

Perfectly, I won't..

        Bagian yang tercecer ini semakin lama semakin terkikis dan takutnya habis. Bagian yang dulunya andil peran penting, saat ini semacam tak terlihat wujudnya. Entah masih dianggap ada atau mungkin sengaja dibiarkan terlunta hingga begitu lusuh dan lama kelamaan hilang dengan sendirinya. Bagian yang tak lagi sama porsinya ini memang sedikit mengharapkan perlakuan yang sama dengan porsi sebelumnya. Dia tak mau porsinya berkurang, apalagi hilang. Karena keterbiasaan mengambil alih adalah hal yang sulit diterima jika perannya digantikan atau bahkan diambil alih bagian lain. Yaaa memang benar jika porsi ini tak lagi bisa utuh, tapi paling tidak tetap ada secuil peran yang bisa membantu untuk membuatnya utuh kembali. Bisa sedikit memberikan kontribusi walau kecil. Yaaa mungkin itu lebih dari cukup. Cukup untuk menebus kepingan rindu yang memang sulit dikumpulkan satu persatu.

Kamis, 09 Februari 2012

Open mind it !

      Perubahan itu sulit. Merubah apa pun atau berubah untuk menjadi apa pun itu jauh dari gampang. Perubahan lingkungan, perubahan karakter, perubahan orang atau bahkan sampai perubahan hati. Meletakkan sesuatu yang telah terbiasa tertata disana, kemudian dipindahkan dan dirubah letaknya, maka akan susah untuk beradaptasi ulang. Memulai semua dari hal baru, menemukan hal asing, butuh proses yang lama. Sama seperti kehilangan sesuatu, bukan hal mudah untuk menggantinya utuh atau sama persis.
     Merubah posisi itu menjadi hal asing, membuat semua ketergantungan perlahan hilang, mengganti semua hal luar biasa itu menjadi kembali biasa, menggeser rasa itu menjadi sebuah kepalsuan. Apa yg membuat semuanya begitu palsu? HAHA kita hanya bermain drama yang nyatanya menyedihkan. Kita dipermainkan perasaan. Pembelajaran terburuk dalam diri adalah berbohong dan berpura-pura. Yaa, sekarang kita sedang dalam scene itu. Setiap kata yg terucap baik belum tentu nyatanya, setiap tingkah yang apik tak lain nyatanya hanya tipu. Kita bermain dibalik kedok kebaikan, tapi membuat diri mati menahan sengsara. Salah jika kita tak mampu bermain? Jika kita lelah dan coba berlari untuk kembali? Salah? Tanya pada mereka! Haaaaaaaah aku hanya ingin berperan menjadi aku, menjadi aku yang mencintai diriku bukan atas nama kebahagiaan mereka. Aku yang menjadi aku yang bahagia dengan caraku. Aku yang tak harus memikirkan mereka. Aku yang menentukan pilihan. Hanya aku! Tapi sayangnya egoku masih berlogika. Tak semua yang aku inginkan adalah apa yang sebenarnya aku butuhkan. Ya, Tuhan bukan memberikan apa yang manusia inginkan tapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan.  

Jumat, 03 Februari 2012

Kita dan abu-abu


        Kita itu terlalu abu-abu menjalankan cerita. Alurnya terlalu rumit dan belokannya terlalu tajam. Tanjakan terjal dan turunan curam didepan mata. Tapi tujuan kita ternyata memang terlalu jauh. Sangat jauh.  Abu-abu ini bisa apa? Terlalu renta dan lemah ternyata. Tawanya sekarang berubah kegalauan penuh sendu yg bergelayutan. Kenapa lagi? Masalah lama atau tambahan goncangan kecil barunya? Ternyata keduanya. Kasihan ya kita. Menginginkan, tapi tak sesuai nyatanya. Membutuhkan, tapi semacam hampir lepas dari genggaman. 
     Abu-abu bukannya buruk atau elok sekali pun. Ia samar. Terlalu samar dan membuat kita kesulitan menghapus buramnya. Saat ini tidak hujan, tapi disini penuh air dan genangan. Terlalu banyak rindu yang tertahan sampai muak menahan. Keadaan mungkin dipihak lain, bukan kita. Tapi kita bukan makhluk super lemah kan? Hmm hmm tapi mau apa ya? Bisa berbuat apa? Kenapa rasa sesaknya ini bertubi-tubi datang? Haaaaaaah entahlah. Terlalu banyak tapi. Terlalu banyak tanya. Yaaa terlalu abu-abu.