Sabtu, 10 Desember 2016

SAH !

Pulang, adalah aku pada rumah. Pada jarak yang terpaut jauh, namun pada hati yang senantiasa dekat.

Kepulangan hari ini menambah getaran pada jiwa, menggemukan bendungan air di bawah mata. Menarik garis merekah pada bibir. Merekatkan mereka yang nun jauh di sana.

Kepulangan kali ini begitu mengharukan pun membahagiakan. Momen menemukan sahabat seumur hidupnya seorang kakak laki-laki. Anak tertua dan sosok ayah pada keluarga. Teman beradu argumen sejak kecil. Lawan bertarung yang susah dikalahkan. Panutan dalam proses menentukan arah. Tempat berkeluh kesah saat resah. 

Hari ini akhirnya tiba. Waktu dimana dipertemukannya mereka pada janji setia dunia- surgawi. Memulai bahtera rumah tangga yang mandiri. Menjadi nahkoda pada kapal layarnya. Menjadi pemimpin bagi anggota di rumah kecilnya. 

Pagi ini, ikrar janji itu terucap. Semua mata tertuju pada mereka berdua, yang dengan yakin dilafazkan. Alhamdulillah Allah memudahkan jalannya dan malaikat pun ikut mengamini doa- doa yang membumbung tinggi. 

Doa- doa membanjiri masjid, begitu pula air mata dan isak tangis bahagia. Semoga Allah senantiasa menyatukan hati mereka berdua dalam keridhoan-Nya. Aamiinn.

Kami yang berbahagia.






Senin, 31 Oktober 2016

Mari Bercerita

Setiap kita butuh telinga. Tidak untuk diceramahi atau diberi solusi. Tidak untuk dinasehati atau digurui. Tidak untuk disalahkan ataupun dibenarkan.

Karena setiap kita hanya ingin didengar, menemukan tempat untuk berkeluh kesah, yang meyakinkan diri bahwa cerita ini tidaklah terlalu membosankan dan bodoh untuk ditertawakan.

Siap-siap pasang telinga. Jika sudah, aku akan mulai bercerita.

Jangan tertawa, dengarkan saja. Deal?

Minggu, 16 Oktober 2016

Transformasi

Hari minggu kemarin, aku berkunjung ke rumah Mbak Fatkur buat silaturahmi sekaligus kenalan sama Irza, yang umurnya udah 1 bulan aja. Sempet ngerasa dosa juga baru sempet ke sana. Tapi rasanya kemarin itu bener-bener quality time buat kami.

Pasukan penjajah rumah Dek Irza kemarin ada aku, Endi beserta suami, Nita beserta Inar, anaknya yang lagi lucu-lucunya.

Iya, kita berempat dulu adalah kumpulan gadis-gadis kantor yang 2 tahun lalu masih berstatus lajang di piknik kantor. Masih dengan tingkah polah tarik-tarikan nyeburin temennya ke pantai, ketawa-tiwi lemparan pasir, bahkan kecentilan cekrak-cekrek ngambilin gambar.

And see what happen in these 2 years? 3 gadis itu sudah berubah status menjadi istri orang bahkan 2 diantara mereka sudah jadi Ibu. How fast time flies!!

Rasa-rasanya baru kemarin ngedengerin mereka kasmaran, putus cinta, sampai akhirnya menikah dengan orang yang bisa dikatakan baru di historical hidup mereka. Aaaaah, ajaib memang.

Sebagai anak bontot diantara berempat, jelas saja kemarin aku menjadi bahan bullyan emak-emak rempong ini. Bullyan yang memotivasi tapi sih haha

Dan memang nyatanya, banyak hal yang secara tidak langsung membuatku memaknai hakekat dari sebuah pernikahan.

Yes, bukan perihal siapa cepat dia hebat. Bukan perihal eksistensi diri. Bukan juga menjadi tolak ukur kebahagiaan yang hakiki. Atau bahkan, jika teman-temanku sudah menikah maka aku pun harus dan wajib hukumnya untuk langsung menyusul. Karena terburu-buru dan menyegerakan adalah hal yang berbeda kan?

Tapi hal yang bisa aku lihat dan ambil dari mereka adalah keajaiban dari sebuah pertemuan dan menemukan tempat pemberhentian. Melihat di mana tangan Allah benar-benar bermain dalam proses penemuan itu. Dimana sejatinya, kita hanyalah lakon yang digerakkan oleh dalangnya. Dimana hati, memang teramat sangat mudah dibolak-balikan oleh-Nya.

Untuk kita berempat yang sekarang sudah berenam, dan bahkan besok entah sudah berberapa. Selamat berbahagia untuk apapun yang kita punya saat ini. Dan selamat berjuang untuk menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.

Doakan anak bontot ini lekas berlabuh, supaya gak baperan kalo lagi kumpul bersama kalian, buibuh.

Xoxoxo

Minggu, 09 Oktober 2016

Masalah?

Berbahagialah siapa saja yang hari ini diberi masalah. Artinya, Allah masih sayang padanya. Saat ia yakin bahwa Allah yang sedang mengujinya, maka ia pun harusnya juga yakin bahwa Allah lah yang akan menyelesaikannya. Dan berhati-hatilah bagi siapa saja yang hari ini merasa tidak ada masalah. Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa Allah perlahan atau bahkan sudah menjauhinya.

Maka, peluklah masalah-masalah itu, ia datang untuk menguatkan iman.

Jumat, 07 Oktober 2016

Problem Solved!

"Mah, mbak bingung. Kalau mama tanya soal apa, mbak beneran bingung mau cerita dari mana."

"Nggak perlu cerita deh, mama tau intinya mbak lagi bingung kan. Yaudah, gitu aja cukup."

"Terus solusinya gimana?"

"Kalau sesuatu sudah ditakdirkan untuk kita, sejauh apapun kita berlari maka ia akan selalu mendekat. Dan sebaliknya Mbak, kalau memang bukan takdirnya, semakin kita berusaha mendekat, maka akan terus jauh ia berlari."

............

#endconversation #problemsolved #iyajugaya #assimpleasthat #makjleb #speechless #kemanaajawiiiik

Selasa, 06 September 2016

Jangan

Jangan pernah risau akan doa-doa yang belum terjawab

Jangan pernah berhenti walau semua masih harap

Jika doa yang bertemu di langit nanti membentuk kita, maka inilah hasil dari setiap pinta

Jika memang bukan adanya, maka garis-Nya lebih baik dari yang kita duga

Jangan pernah ragu tentang jalan yang sudah dipilihkan

Jangan pernah malu saat ternyata bukan kita yang Allah mau

Karena yang Maha Tahu tidak akan pernah keliru, sedang manusia bukanlah penebak jitu

Biarkanlah doa membentuk jarak menjadi satu

Dan biarkanlah hujan ini menjadi pengantar sebuah rindu

-terbaperisasi hujan-

Senin, 29 Agustus 2016

Percakapan hujan dan senja

hujan berbisik pada senja, tentang doa-doa yang jatuh bersamaan dengan turunnya.

"apa mereka selalu berdoa sekhusyuk ini disetiap senjamu?"

"mereka selalu berdoa, tapi selalu melipat gandakannya saat engkau ada."

"sebegitu berartinya kah kehadiranku dimata mereka? aku tersanjung."

"bukankah mereka memang selalu menantikan kehadiranmu?"

"tidak, tidak semua. bahkan ketika datang aku sering kali dikutuk. tidak banyak yang dengan riang hati menyambutku, senja. hanya sebagian dari mereka yang mencintai Tuhannya, yang bisa memaknai kehadiran dan rasa syukur yang sederhana."

"kita harus tetap berbahagia untuk ini. kita sudah menjadi saksi atas bertaburnya doa manusia di waktu yang diharapkan: ba’da ashar sampai matahari terbenam menuju senjaku, dan dikala turunnya hujanmu. kita adalah pengharapan."

Hujan pun jatuh bercampur linangan kebahagiaan, betapa dirinya sangat dirindukan insan yang sedang memperjuangkan doa dan takdir-Nya di langit.



-selasar masjid di pinggiran jalan Yogyakarta, menanti magrib dan hujan reda, sembari berdoa-