Selasa, 01 Oktober 2013

Office daily

Let's balance my brain. Such as a boring time in the office, and TARAAAA. I made this absurd ones:

Drawing a girl, her name is Moonay.

Moonay and Starfi


Kamis, 26 September 2013

Bukan Sebuah Kebetulan - Dari Sebuah Pesan WA

Saat kau duduk santai dan menikmati harimu, tiba-tiba kamu terpikirkan ingin berbuat sesuatu kebaikan untuk seseorang..?

Itu adalah Allah…
Yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk hatimu…
[QS 4:114 , 2:195 , 28:77]

Pernahkah…
Saat kau sedang sedih… kecewa… tetapi tidak ada orang di sekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati..?

Itulah saatnya di mana Allah… Sedang rindu padamu dan ingin agar kamu berbicara padaNYA…
[QS 12:86]

Pernahkah…
Kamu tanpa sengaja memikirkan seseorang yang sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba orang tersebut muncul atau kamu bertemu dengannya atau menerima telepon darinya..?

Itu adalah Kuasa Allah yang sedang menghiburmu.
Tidak ada namanya kebetulan…
[QS 3:190-191]

Pernahkah…
Kamu mengharapkan sesuatu yang tidak terduga…
Yang selama ini kamu inginkan…
Tapi rasanya sulit untuk didapatkan..?

Itu adalah Allah…
Yang mengetahui dan mendengar suara batinmu…
Dan hasil dari benih kebaikan yang anda taburkan sebelumnya.
[QS 65:2-3]

Pernahkah…
Kau berada dalam situasi yang buntu… semua terasa begitu sulit…
Begitu tidak menyenangkan… hambar…kosong…
bahkan menakutkan…?

Itu adalah saat di mana Allah mengijinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari KeberadaanNYA.
Dan Allah ingin mendengar rintihan dan doamu.
Karena DIA tahu kamu sudah mulai melupakanNYA dalam kesenangan…
[QS 47:31 , 32:21]

Sering Allah mendemonstrasikan KASIH dan KUASANYA di dalam area, di mana saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Apakah kau pikir tulisan ini hanya iseng terkirim padamu…?

TIDAK..! Sekali lagi TIDAK ada yang kebetulan…

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu…

Rasakan kehadiran-Nya…

Dengarkan suara-Nya yang berkata:

"Jangan Khawatir, AKU ada disini bersamamu..!"
[QS 2:214 , 2:186, 50:16]

source


Di pagi hari yang kacau, dan tanpa sengaja menemukan tulisan ini. Iya, ini bukan sebuah kebetulan kan? :")

Rabu, 25 September 2013

Adakalanya

Adakalanya kita tidak butuh bicara. Karena tak selamanya yang terucap adalah apa yang ingin disampaikan, dan tak selamanya diam mencerminkan ketidakpedulian. Tarik keluar sisi dewasamu, biarkan dia yang menilai. Karena ada banyak cara untuk memahami, selain berkata-kata.

Private room- Payung Teduh in the air, brings me to the dreamland.

Cerpen: Beranda dan Cangkir Kita



Sore itu di beranda, secangkir kopi hitam untukmu dan secangkir teh manis hangat kepunyaanku. Dibumbui obrolan tentang masa depan pun masa lalu.

Hari itu kamu lebih mendominasi obrolan. Tentang rumah impian, tentang investasi masa depan, juga tentang perasaan.

Aku selalu suka menjadi pendengar, yang bisa dengan diam- diam mencuri waktu untuk memandangimu, memperhatikan tiap detail lekuk wajahmu, begitu jelas, begitu dekat, ya begitu saja sudah cukup bagiku.

Namun cerita terhenti saat telepon genggammu berbunyi. Ada cahaya lain di mata itu, yang aku lihat berbeda saat aku yang menjadi teman mengobrolmu. Ada energi lain yang belum pernah aku rasakan saat aku yang ada di sampingmu.

Jika aku adalah cahaya lilin untukmu, maka saat ini juga aku pasti meredup. Tak mampu untuk lebih lama lagi bertugas menerangi. Lelahkah?

15 tahun berandaku menjadi tempat berbagimu. 15 tahun aku menjadi pendengar setiamu. 15 tahun sorot mata itu tak pernah berbeda menatapku. 15 tahun sudah cukup mencintaimu dalam diamku.

Kamu, teman masa kecil yang dulu pernah menjadi pasangan pengantin priaku, yang setiap sore selalu ditunggu untuk bermain rumah-rumahan bersamaku. Kini akan benar- benar menjadi aktor utama dalam hidup barumu.

Beranda, kopi dan teh ini tidak akan sama lagi esok hari, seraya kamu pergi dan meninggalkan sepucuk undangan cantik untukku. Selamat menempuh hidup baru.

Selasa, 24 September 2013

Cerpen : Ibu yang Tak Pernah Membicarakan Ayah

Ibu menyaksikanku tumbuh sejak berada dalam rahimnya. Mual pertama kali hingga susah tidur dimalam hari. Aku tumbuh seperti tunas-tunas pohon pisang. Cepat sekali membesar.

Ini adalah beban yang dijalani dengan riang gembira. Semua orang menantikanku. Aku tidak pernah merasakan dinanti sedemikian berharga kecuali di hari itu. Kelahiran. Tangisanku yang disambut dengan gelak tawa dan air mata bahagia. Tanda bahwa aku hidup dan ada kehidupan setelahnya. Itulah awal hidupnya harapan Ibu.

Ibu menyaksikanku tumbuh membesar. Mulai mengenali kata dan tanda. Aku belajar segala hal mengenai dunia ini selama bertahun-tahun hanya dari seorang guru, Ibu. Setiap kali jemari kecilku menunjuk sesuatu, ibu akan menjelaskannya. Setiap kali pula aku menangis karena sesuatu, ibu selalu mencandaiku bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Ibu menyaksikanku tumbuh berkembang. Aku berlari-lari dalam hujan yang panjang. Ibu tidak mengkhawatirkan aku sakit atau apapun. Aku berhak menikmati masa kecil yang indah katanya. Katanya sambil matanya seperti ingin menangis. Tapi aku tidak mengerti mengapa, aku melepas tangannya dan berlari keluar rumah.

Pada hujan yang tak kunjung berhenti dan aku mulai kelelahan. Ibu telah menyiapkanku sebak penuh air hangat dan memandikanku sambil bertanya-tanya "tadi ngapain aja?". Dan kami tertawa sementara aku telanjang diatas bak kecil dan aku duduk didalamnya. Membiarkannya memandikanku.

Ibu menyaksikanku tumbuh cerdas. Aku mulai mengenal dunia dalam kata-kata dan lembar kertas. Setiap kali tak mengerti aku selalu bertanya. Pada usiaku yang baru masuk sekolah. Aku memegang buku mewarnai dan bacaan tingkat dasar.

Ini Budi
Ini Ibu Budi
Ini Ayah Budi

Ayah itu apa, aku bertanya pada ibu pada esok harinya. Mengapa ada sosok laki-laki dewasa dalam ilustrasi buku tersebut. Siapakah dia. Ayah itu siapa. Lalu aku melihat ibu seperti ingin menangis. Aku tidak bertanya lagi sampai hari itu. Hingga pada hari pertama masuk sekolah.

Teman-temanku memperkenalkan orang tua mereka. Menyebutkan kata ayah. Lalu aku tanya kepada bu guru. Ayah itu apa? Mereka semua tertawa. Sepanjang ibu memperkenalkan dunia kepadaku. Ia tidak pernah menyebut kata ayah. Mengapa harus ada sosok laki-laki dewasa di dalam rumah. Aku pulang kepada Ibu dan menangis. Aku menceritakan ejekan teman-temanku pada hari pertama.

Ibu menenangkanku. Sambil mengatakan,”Ayah adalah malaikat yang memberikan kita kehidupan dan perlindungan”, katanya sambil memelukku. Aku tidak bisa melihat air mukanya. Pada tangannya ada selembar foto yang kemudian aku temukan sudah sobek esok harinya. Aku tak pernah bertanya lagi sejak hari itu.

Aku tidak ingin membuat ibu sedih.

Bandung, 19 September 2013

MASGUN



Tiba-tiba mbrebes mili baca ini :')

Jumat, 20 September 2013

Aku

Aku baik- baik saja, secara fisik aku sama seperti anak lainnya. Aku pun tidak pernah merasa berbeda. Tapi orang- orang disekitarku tidak setuju. Aku aneh, begitu kata mereka.

Aku memang memiliki duniaku sendiri. Aku lebih memilih menyendiri, menghabiskan waktu berjam- jam hanya dengan dunia fantasiku. Dunia yang tidak bisa aku bagikan kepada siapa pun.

Mungkin jika bisa memilih, aku pun pasti tidak ingin begini. Pasti menyenangkan bisa bermain dengan teman sebaya dan memperebutkan mainan kesayangan. Tidak merasa terasingkan dan merasa dikhususkan seperti ini.

Iya, kata orang aku berbeda. Memang aku akui, ada yang aneh pada diriku. Sejak duduk di bangku playgroup hingga sekolah menengah atas ini aku selalu didampingi ibu di dalam kelas. Iya, ibuku duduk berdampingan denganku di dalam kelas mengikuti pelajaran dari pagi hingga bel pulang berbunyi. Setiap hari.

Aku memang kurang bisa berkonsentrasi, emosional, dan tidak peduli lingkungan. Tapi aku heran pada mereka yang mengatakan bahwa aku tidak mengerti apa- apa. Mereka kira aku buta dan tuli? Salah. Sebenarnya aku paham dengan apa yang aku lihat dan dengar. Namun aku memang lebih memilih diam.

Sulit bagiku untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan. Jika aku tidak setuju, barang- barang disekitar menjadi sasaran amukan sebagai wujud penolakan. Bagi mereka yang tidak memahamiku, mungkin aku terkesan mengerikan, tapi sebenarnya aku hanya butuh sebuah pelukan.

Untuk berinteraksi pun aku kesulitan. Bukannya aku tidak mau, tapi merekalah yang tidak mau masuk keduniaku. Merekalah yang memagari diri dan enggan menilikku lebih dalam.

Bukan berarti aku tidak mengerti arti kasih sayang. Malah bisa dibilang aku sangat peka. Bisa dengan mudah membedakan ketulusan dan hati yang tidak ada keikhlasan.

Aku tidak pernah malu jika pandangan orang- orang asing itu tampak aneh padaku. Melihat anak lelaki yang harusnya melindungi ibunya malah berlaku sebaliknya. Digandeng ibu kemana- mana, bertingkah tidak selayaknya lelaki dewasa, menggembok diri dari pertemanan. Tapi beginilah aku, harusnya mereka belajar banyak hal dariku. Tentang rasa syukur, keikhlasan, kesabaran dan ketulusan.

Aku bangga menjadi aku yang berkebutuhan khusus seperti ini, bangga memiliki ibu hebat seperti ibuku.
Suatu hari ibu pernah bertanya, mau sampai kapan aku diantar ke sekolah dan ketergantungan dengannya?

Katanya, untuk anak normal seusiaku yang menginjak kepala 2, tidaklah wajar kemana- mana selalu dibuntuti ibu. Aku diam.

Pertanyaannya berlanjut, seandainya nanti ibu sudah tidak ada, apa aku akan baik- baik saja? Aku masih diam, mencoba untuk paham.

Lengan ibu kurasa hangat mendekapku. Iya, apa jadinya aku seorang autisme ini tanpa adanya ibu? Aku tidak tahu.

Kamis, 19 September 2013

Repost





Syahdan, Rasulullah benar-benar tidak pernah main-main dalam memberikan opsi masa depan, baik untuk dunia maupun akhirat. Beliau visioner dan berpikir jangka panjang. Dalam hal jodoh, misalnya, beliau dengan jelas memberikan empat fondasi terbaik jika ingin memilih. Dan, yang paling beliau tekankan adalah opsi “yang baik agamanya.”
Mengapa demikian? Karena bagaimana mungkin seseorang yang masih “bermasalah” dengan dirinya: masih melakukan maksiat kepada-Nya, tidak mau tunduk terhadap perintah-Nya, sering berkata jorok lagi kasar, jarang menyentuh surat cinta-Nya, tidak menghargai dirinya sendiri, dsb bisa mencintaimu dengan sempurna? Ia sendiri belum selesai dengan dirinya. Lalu, bagaimana bisa kelak sama-sama di surga, bilamana alih-alih malah neraka? Naudzubillah.
Memang ruang untuk berubah pasti ada: seperti keimanan yang naik turun, pagi-petang. Bisa jadi di pagi hari beriman, petangnya alfa. Begitu pula sebaliknya. Masalahnya, dalam hal pasangan hidup, Rasulullah tidak berspekulasi. Rasulullah menyarankan opsi “yang baik agamanya” sebagai opsi terbaik. Ini bukan masalah cinta. Cinta dapat muncul kapan saja. Tapi ini masalah masa depan dunia-akhirat.
Jadi, seperti apa yang disarankan oleh Rasulullah: jika mencari pasangan, carilah ia yang telah selesai dengan dirinya agar ia bisa fokus dengan dirimu. Begitu pula sebaliknya. #ntms

source

Noted! :')