Rabu, 17 April 2013

Marry Your Daughter

Untuk kesekian kalinya jatuh cinta sama sebuah lagu. Kali ini lagi suka banget sama lagunya Brian McKnight, Marry Your Daughter. Hm, judulnya aja udah menggelitik gimana gitu kan? Dulu pertama kali denger lagu ini sih biasa aja, gak sampai mendalami tiap kata- kata di liriknya. Nah, saat belakangan lagu ini keputer lagi baru deh nyesss moment nya dapet muehehe
Lagu ini menceritakan tentang seorang pria yang "meminta ijin" ke bapak si perempuan untuk menikahi anak gadisnya. Aaaw perempuan mana yang gak melting saat momen seperti ini benar- benar terjadi di hidupnya. Cekidot! (liriknya doang yee)

Marry Your Daughter - Brian McKnight 

 

Sir, I'm a bit nervous
About being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time.
See in this box is a ring for your oldest.
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Cause very soon I'm hoping that I...

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'til the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

She's been here every step
Since the day that we met
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
So don't you ever worry about me ever treating her bad
I've got most of my vows done so far
(So bring on the better or worse)
And 'til death do us part
There's no doubt in my mind
It's time
I'm ready to start
I swear to you with all of my heart...

I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'til the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

The first time I saw her
I swear I knew that I'd say I do

I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter


See? :')
 

Peran dan Batasannya

...... Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Tanpa sengaja menemukan sebuah tulisan super nge-jleb di blognya Dewi Lestari. Siapa sih yang tidak mengenal wanita hebat satu ini? Jujur, aku merupakan salah satu penggemar bacaan maupun lirik- lirik lagu ciptaannya. 

Tulisan itu menceritakan tentang dinamika hubungan antara anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya, khususnya mama. Dan ini membuat aku sedikit tersadar bahwa "peran" masing- masing orang terkadang malah membuat diantaranya ada "batasan". Hm, bukan hanya antara anak dengan orangtua, namun lebih global ke setiap manusia-nya. Intinya cobalah mengenal sesuatu melebihi batasan yang ada, dengan mengenal sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real.

Tuh kan tiba- tiba ngerasa nyeeeess sendiri, nih link-nya  http://dee-idea.blogspot.com/2009/08/manusia-bukan-mama.html . Salam!

Jumat, 12 April 2013

Pemikiran Absurdku (lagi)


Hari yang cerah untuk hati yang gundah (apalah ini)
Selamat hari Jumat !

Siang ini diwaktu jam istirahat kantor, entah kenapa lagi pengen banget nge-post tentang fase yang saat ini sedang aku masuki perlahan. Fase dimana kita bisa merasakan hidup yang sebenarnya. Fase penemuan hidup "baru". Ya, fasenya orang dewasa.

Fase yang menurutku malah fase yang sedikit menakutkan namun pun menakjubkan. Menakutkannya apa? Karena, fase ini adalah fase dimana berarti umur kita semakin bertambah, yang artinya kesempatan hidup berkurang, yang artinya lagi udah gak pantes buat ngedusel-dusel mama kalau mau tidur haha
AAAAAAA rasanya gak rela meninggalkan fase- fase jauh dibawah ini.
Lalu, menakjubkannya apa? Nah katanya, kebanyakan orang mulai menemukan jati diri yang sebenarnya di fase ini. Menggapai cita- citanya, menemukan "sebagian" hidup yang lainnya, meninggalkan orang-orang rumahnya, dan memulai kehidupan barunya sendiri. Takjub? Ya. Merasakan waktu berlalu begitu cepat. Melihat usia yang bukan lagi hitungan belasan. Melihat sekitar yang hidupnya mulai memperlihatkan "keutuhan". Allahuakbar. Allah memang Maha Besar atas segala nikmat yang selama ini Dia curahkan. Lagi-lagi aku dibuai waktu. Lagi- lagi merasa penghabisan waktu tidak berbanding lurus dengan hasil.

Nah, beberapa waktu lalu pun aku merasakan pembahasan antar teman yang sudah sedikit berbeda. Pembahasan yang cukup "berat" saat berhadapan dengan 2 orang teman lama ini. Rasanya dalam hati bergumam "apa iya udah harus gitu ya" atau "haaaa masa sih?"
Ya, lucu membayangkan kecemasan yang perlahan muncul antar kami dan sejujurnya itu sedikit mengkhawatirkan hahahaha

Patokan "kedewasaan" bagiku adalah saat dimana kamu menerima undangan pernikahan yang beralamatkan namamu. Ya, ini undangan kedua yang sudah pernah aku terima. Pertama, saat nikahan kakaknya Nanda (gak masuk hitungan ya harusnya? Bodo amat haha). Dan yang kedua ini nikahannya teman sekantor. Teman sekantor, men. TEMAN SEKANTOR. Iya, harusnya aku santai aja sih. 
Nah yang jadi masalahnya itu bukan teman sekantor yang mau nikah sih sebenarnya, tapi saat aku dapat undangan nikahannya itu loh yang sedikit nge-jleb
Well, mungkin sudah saatnya aktifitasku diakhir minggu bukan lagi cuma leyeh- leyeh di depan TV nontonin aneka kartun kesayangan atau gak mandi seharian, kecuali ada yang ngajakin keluar. Tapi njagong manten yang mungkin akan menjadi aktifitas rutin tiap minggu atau sebulan sekali lah minimal. Atau yang lebih ekstrimnya lagi, apa sudah harus mulai mencari orang yang bisa diajak menemani ke setiap kondangan? Oh oke. Harusnya gak usah pake bold juga kali! Bye. Tiba- tiba kepala nyut-nyutan saat pembahasan ini. Yaudah, sekian dan terima kasih.
Nih foto orang yang baru saja jadi "dewasa" nih #plak . Bye~



Welcome 20 !

Happy birthday to me :D



Rabu, 10 April 2013

Jatim's Tour

Salam!
Kali ini adalah late-posting yang kesekian haha
Postingan tentang perjalanan 4 hari ke daerah Jawa Timur.
Perjalanan dadakan yang diusung oleh sepupuku, Mbak Fit.
Here we go!

Perjalanan kita mulai dari transitnya mbak Fit ke jogja, pasca wisudaku 23 Februari lalu, dia berencana mengajakku pergi menemaninya yang lagi cuti ke Malang untuk urusan kampus.
Nah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, kita langsung menyusun rencana dadakan untuk memanfaatkan cuti kerjanya dan memulai rute dari Surabaya, Malang, lalu ke Gresik.

Surabaya
Kota pahlawan yang juga kota terbesar kedua setelah Jakarta. Tidak heran, jalanan padat dan berpolusi menjadi sapaan awal kami datang kesini.
Dari Jogja kita menggunakan kereta Sancaka Pagi, perjalanan yang ditempuh kurang lebih 5 jam dan sepanjang perjalanan mataku disuguhi bentangan hijau yang membuat rasa laparku menjadi- jadi (ceritanya lupa bawa bekal :p)
Setiba di Stasiun Gubeng, aku dan mbak fit dijemput oleh Pak Gito yang super baik dan sabar menghadapi dua wanita yang banyak maunya ini hahaha. Beliau langsung mengantar kita ke penginapan. Gak pake mandi gak pake makan (padahal laper banget), aku dan mbak fit gak mau menghabiskan waktu cuma untuk mendem dikamar. Langsung aja kita ngajakin Pak Gito muter- muter dan pemberhentian pertama kami adalah di Tugu Pahlawan.



Tugu Pahlawan terletak di Jalan Tembaan. Tugu pahlawan ini dibangun untuk menghormati parjurit Surabaya yang tewas selama pertempuran besar melawan tentara sekutu yang dilumpuhkan oleh NICA, dan yang ingin menduduki Surabaya pada 10 November 1945. Tugu pahlawan ini terletak di depan kantor gubenur. Nah, didalam tugu ini pun ada museum, tapi eh tapi karena kita datangnya kesorean alhasil gak sempet mampir deh :(

Perjalanan kita lanjutkan ke Museum Kapal Selam atau kerennya Monkasel, nah museum ini adalah sebuah kapal besar yang mana dulunya adalah salah satu armada Angkatan Laut Indonesia, kapal selam ini kemudian dibawa ke daratan dan digunakan sebagai monumen untuk memperingati keberanian pahlawan-pahlawan Indonesia gitu katanya. 
Monkasel tampak luar



 bersambung dulu, broh...



Sabtu, 30 Maret 2013

OVERLATE POSTING

Jika Tuhan mengirimkan kebahagiaan untuk dinikmati dan disyukuri. Merekalah ungkapan rasa syukur yang sebenarnya :)

Minggu, 17 Februari 2013

Pembelokkan Hati (End)


“How’s life?” sapaku lirih.
“Good, as usuall. You too, kan?” dia tersenyum paksa.
Bisa- bisanya dia berkata aku baik- baik saja. Dasar bodoh!” gumamku.
“Tidak ada yang lebih baik dari saat tahu tentang kabarmu yang 3 tahun ini menghilang, Ndre. Dan lebih baik kamu tak usah menanyakan kembali kabarku. Bukankah selama ini kamu selalu tahu? Kurang puas kamu melihatku begini? ”
“Sabar dulu, Key. Yuk masuk”
“Hahaha aku sudah lelah mendengar nama sabar disebut- sebut selama ini. Aku sudah khatam!” jawabku sedikit berapi.
Aku mengikuti langkahnya, menuju sebuah ruangan dilantai 2.
=0=

Tak ada kata- kata dalam lima belas menit pertama. Mataku hanya memandang kosong kearah jendela. Begitu pula dia tampaknya.
“Jangan bertanya kenapa, Key. Aku mohon” suaranya memecah keheningan.
“Hahaha iya, lalu jangan salahkan aku jika aku mati penasaran sekarang juga ya” jawabku sambil tertawa sinis.
“Suatu saat kamu pasti ngerti, dan ini semua demi kebaikan kita, Key”
“Kita? Siapa kita yang kamu maksud? Aku dan kamu? Sejak kapan ada hubungannya aku dan kamu? Aku hanya adik tingkatmu yang bodoh yang tidak pernah sadar bahwa kebodohan ini memang hanya kesia- siaan. Iya kan?” suaraku mulai bergetar menahan tangis.
“Lalu kamu bilang demi kebaikan kita? Hahaha lucu sekali kamu ini Andre. Mungkin yang ada dibenakmu sekarang aku adalah seorang gadis kecil yang datang meminta belas kasihan dari kamu, yang sudah aku nantikan kepulangannya 3 tahun yang lalu. Menanti sebuah kepastian yang nyatanya tak pernah pasti. Sebegitu bodohnyakah aku dimatamu ya?” air mataku tak bisa aku tahan lagi. Isakku menjadi- jadi.
Andre hanya menunduk, mulai melangkahkan kakinya mendekati tempat aku terduduk. Kurasakan lengan besarnya mendekap tubuhku dengan erat. Terasa lebih tenang, namun menyakitkan.
“Kamu akan tetap selalu indah sampai kapan pun, Key. Kamu adalah satu- satunya wanita yang sampai saat ini aku kagumi, aku rindukan dan aku sayangi. Maafin aku” suaranya yang sedikit berat itu terdengar begitu tulus.
“Bukan salah kamu, aku atau waktu. Perasaan yang kita punya ini yang salah, Key. Sangat salah.”
Aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Andre barusan. Aku mencoba mencerna. Tapi tetap tak paham. Aku bodoh.
=0=

Perbincangan aku dan Andre hari itu tergantung dikalimat yang sulit dicerna itu. Dia tak ingin membahas lebih lanjut dan aku pun masih berusaha memecahkan tanda tanya itu dengan sendirinya. Sepanjang perjalanan menuju tempat penginapan, aku yang diantar Andre hanya terdiam termenung di dalam mobil.
“Kamu tunggu bentar ya, gak usah dipikirin masalah tadi, besok pagi kita bicarakan lagi” dia turun dari mobil dan menuju ATM yang berada dikiri jalan tempat parkir ini.
Aku tak menjawab dan kubiarkan dia berlalu meninggalkan aku di dalam mobil. Kulihat sekitarku, dan sebuah barang di dashboard depan itu menarik perhatianku. Kuambil, kulihat- lihat, tampaknya tak asing benda ini, sebuah cincin giok berukuran sedang dan didalam lingkarannya bertulis nama…. Bram.
=0=

Bram Santoso adalah lelaki yang aku lihat di pintu resto sebelum bertemu Andre. Sosok yang aku bilang pernah menjadi seorang papa buat aku. Tapi bukan itu yang saat ini menjadi masalah, tapi…apa hubungan antara Andre dan Papa yang sebenarnya? Apakah? 
=0=

Bila cinta tak pernah salah, kenapa aku harus merasakan rasa yang tidak seharusnya ini? Apakah cinta tetap tidak mau disalahkan? Apakah kesalahannya terletak pada insan yang menjalaninya? Apakah yang salah keadaan? Apa? Tuhan aku butuh satu alasan untuk ini. Aku tak pernah ingin merasakan perasaan ini, jika akhirnya hanya ketidakpantasan. Aku cukup lelah dihari- hari kemarin. Tidak bolehkah aku sedikit bahagia, Tuhan?

Dengan keadaan yang seperti saat ini, aku masih tak mau banyak bicara pada Andre ataupun Papa. Aku merasa dipermainkan dan memang begitu menyakitkan. Aku dan Andre adalah saudara tiri yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Andre menghilang dariku 3 tahun lalu karena dia takut akan kenyataan yang ia ketahui terlebih dulu dari aku ini.
Ibu Andre adalah istri pertama Papa, dan saat beliau menikahi mamaku memang keadaan keluarga Andre saat itu sedang tidak terlalu baik. Sebelas tahun Papa hidup bersama mama dan aku. Yang aku tahu Papa selalu pulang kerumah setiap akhir minggu lalu kembali bekerja lagi keesokkan harinya diluar kota. Entah aku yang memang masih lugu atau aku terlalu bodoh tidak menyadari itu semua. Saat usiaku menginjak 10 tahun, Papa tidak pernah lagi pulang kerumah di akhir pekan, seperti biasanya. Ternyata saat itu, Papa dan keluarga Andre sudah kembali memulai kehidupan yang lebih baik, bahagianya mereka.
Sejak saat itu, hidupku dan mama memang terbiasa tanpa sosok pria yang melindungi, sampai akhirnya saat aku bertemu Andre, si pemilik mata hangat yang sejak kecil aku rindukan.
=0=

“Selamat menempuh hidup baru, sayang” ucap Andre seraya mengecup keningku.
“Iya mas, akhirnya aku merasakan apa itu arti kebahagiaan yang sebenarnya” jawabku sembari menggandeng tangan lelakiku saat ini, Taher, suamiku.
“Her, kamu harus jaga adikku ini dengan baik. Kalau kamu sampai macam- macam,  kamu tahu kan akan berhadapan dengan siapa hahaha” Andre menyiku lengan suami tampanku.
=0=

Hidupku terasa lengkap dengan keluarga yang selama ini aku idam- idamkan, ditambah seseorang yang luar biasa dan nyaris sempurna seperti suamiku. Pertemuanku dengan Mas Andre adalah awal dari semua kesempurnaan ini. Tidak ada yang bisa kupungkiri jika hatiku saat ini mengalami proses “pembelokkan”. Mengubah arah hati kearah yang tak kuduga, dan terjadi pergeseran rasa yang tanpa aku paksa. Semuanya begitu natural berubah. Indah.
Aku dan Taher, Cicil dan keluarga kecilnya, Papa dan Mamaku yang kembali bersama, Iqbal dan calon istrinya, Mas Andre dan kesendiriannya tampak kompak berpose diatas pelaminan kami. Cheeeeesss!
Tidak ada pertemuan yang berakhir dengan kesia- siaan. Jika pertemuan itu tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Percayalah ada hal lain yang Tuhan maksudkan. Dengan proses “pembelokkan” hati, kamu akan mudah mengontrol diri, bukan didikte oleh hati. Jika dengan kehilangan satu cinta, kamu malah mendapatkan berjuta kali lipat imbalannya, siapa yang bisa menolak?
-Tamat-
 Yogyakarta, Februari 2013
Twit Ajeng Pertiwi

Pembelokkan Hati (Part 3)


Bunga- bunga lainnya selalu menghiasi meja kerjaku selama satu minggu ini. Pesan- pesan singkat pun tak lupa ketinggalan.
Hari kedua,
Kamu masih seperti dulu, tetap indah. -A-
Hari ketiga,
Aku ingin menjadi bunga ini, dapat memandangimu sepanjang hari. -A-
Hari keempat,
Jangan tanya kenapa, karena mengagumi indahmu tidak pernah butuh alasan. -A-
Hari kelima,
Aku tak suka melihat air matamu itu, hapuslah atau akan kudoakan kerutan wajahmu dipercepat saja oleh Tuhan. -A-
Hari keenam,
Please jangan jadi orang bodoh, cukup aku yang bodoh sudah berlari sejauh ini.  -A-
Hari ketujuh,
Kalimat yang tak sempat aku ucapkan, telah kuutarakan dari dulu, melalui mataku. -A-
Otomatis otakku berputar dan mencari tahu darimana bunga-bunga ini berasal. Security kantor sudah kutanyai dan kumintai alamat toko bunga ini. Dan siang ini sewaktu jam makan siang aku mampir ke sebuah toko bunga bernama “Florista”.
“Selamat siang, selamat datang di Florista, ada yang bisa dibantu?” sapa dari dalam ramah.
“Saya mau mencari bunga seperti ini mbak” sembari menyodorkan bunga yang kubawa dari meja kerja.
“Mbak, boleh tahu gak siapa pengirim bunga ini dari satu minggu yang lalu, ke alamat kantor saya ini?” tambahku.
“Ooh iya mbak, ada seorang laki- laki yang selalu memesan bunga ini setiap pagi dengan alamat ini mbak”
“Boleh saya tahu ciri- ciri orangnya mbak?”
“Tubuhnya tinggi mbak, putih, suaranya sedikit berat, dan tampan sih keliatannya, tapi kurang begitu jelas karena dia selalu menggunakan kacamata hitam dan topi merah mbak”
Tidak salah lagi! Itu Andre!”
=0=

Esok paginya, pagi sekali. Aku sudah standbye di depan toko bunga yang selalu didatangi Andre itu. Aku akan segera mendatanginya dan akan aku bantai habis- habisan laki- laki menyebalkan itu. Bisa- bisanya dia mempermainkan ini semua dan tidak memikirkan bagaimana perasaanku selama ini. Awas saja!
Lima belas menit aku menunggu dengan emosi yang sudah hampir meluap. Aku melihat sosok lelaki berkacamata hitam dan bertopi merah itu mendatangi Florista. Itu dia!
=0=

Beberapa menit kemudian dia keluar dari toko itu, kutepuk pundaknya.
“Hey!”
“Keyla”
“Kamu, siapa?” tanyaku bingung melihat sosok yang hampir aku hajar ini. Dia bukan Andre!
“Key, maaf. Aku..” dia menjawab terbata.
“Kamu siapa dan kenapa kamu tahu namaku, dan kenapa juga kamu selalu mengirimkan bunga- bunga menyebalkan itu ke kantorku? Mana Andre? Mana?” aku memaki lelaki yang tak kukenal ini.
“Aku..”
“Aku disuruh Andre, Key. Biar aku jelaskan”
=0=

Setalah pertemuan aku dengan lelaki bertopi merah itu, Iqbal, yang tak lain adalah adik kandung Andre, aku masih yakin dengan perasaan Andre, dia masih menjadi Andre yang aku kenal. Dan kurasa sudah cukup penjelasan yang diberikan Iqbal kemaren.
Mas Andre yang nyuruh aku mengawasi kamu terus, Key. Walau dari jauh. Walau kamu gak tahu. Mas Andre gak mau kamu kenapa- kenapa. Dia khawatir banget sama kamu, Key. Dia gak sejahat yang kamu fikir. Dia punya alasan yang aku sendiri gak tau apa. Apapun maksud dari semua ini, semuanya cuma bentuk sayang dia ke kamu, yang mungkin gak bakal pernah kamu ngerti, Key”
Lamunanku mengingat kata- kata Iqbal tadi pagi membuat aku mendapat teguran dari atasan yang menagih laporan keuangan bulan ini. Damn!
=0=

Entah apa yang bersemayam disini, ya organ hatiku. Logika tak lagi jalan tiap nama Andre mengisi pikiran dan hati. Rasa marah yang tadinya ingin aku keluarkan, hilang sudah dengan pernyataan dari Iqbal. Entah. Aku begitu saja percaya. Aarrgh yang aku tahu Andre baik- baik saja saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Nanti sore adalah untuk kedua kalinya aku bertemu dengan Iqbal, ya aku sudah membuat janji dengannya untuk menanyakan perihal Andre. Aku hanya ingin tahu apa yang Andre lakukan beberapa tahun belakangan dan bagaimana ia sekarang.
=0=

Jika lautan itu kamu, tiap kali riakmu besar dan mengerikan, aku tahu itu semua pasti akan berarkhir keindahan. Melihatnya pun menenangkan, menyejukkan, dan begitu dirindukan. Ya, begitulah kamu Ndre. Lelaki bermata hangat yang senantiasa bermain komedi putar di saraf otakku.
3 tahun belakangan Andre berada di luar negeri, melanjutkan studinya dan berhenti dari kampus kami yang lalu. Saat ini, dia sedang menjalankan bisnis ayahnya, seorang pemilik restoran mewah di Ibukota. Lelakiku yang dulu, saat ini terdengar begitu mapan dan dewasa, ya aku sangat merindukannya.
=0=

Bising ibukota kurasakan pagi ini. Lalu lalang kendaraan dan macetnya jalanan tak kuhiraukan, karena yang menjadi target utamaku pagi ini adalah restoran Andre.
=0=

Matanya masih sama, hanya saja keriput diwajahnya dan putih rambutnya mulai terlihat jelas. Sosok lelaki paruh baya itu tak asing bagiku. Busananya rapi dan tampaknya ia sedang sangat sibuk dengan gadget nya. Dengan langkahnya yang cepat ia melangkah keluar dari dalam resto. Dia papa. Orang yang sudah berapa belas tahun terakhir tak pernah pulang kerumah, menemui aku dan mama. Lelaki yang dulunya aku segani. Lelaki yang dulunya selalu kutunggu kepulangannya. Lelaki yang pernah menjadi panutan. Lelaki yang dulu pernah dengan bangganya aku panggil, papa.
=0=

“Andre!” teriakku melepaskan pandangan dari sosok tua tadi dan memanggil lelaki bertubuh tinggi itu. Gayanya terlihat santai dari bos- bos kebanyakan. Kemeja ngepas body dengan lengan panjang yang digulung sesiku, dengan Denim dan sepatu pantofel semiformalnya. Tampak begitu mengagumkan, seperti biasa.
Waktu terasa terhenti ketika mata itu bertemu lagi. Masih sama, masih hangat. Tapi tunggu sebentar, aku salah melihat. Mata itu ada yang mengganjal, terlihat banyak kekhawatiran. Kamu tak kuat untuk melihatku lebih dalam, tak seperti biasanya. Alihanmu itu membuatku sadar, ada sesuatu yang kamu sembunyikan.

Bersambung...