Minggu, 17 Februari 2013

Pembelokkan Hati (Part 2)


Sebulan sejak dating kita di kebun binatang itu. Andre sudah tak pernah kulihat lagi sosoknya dikampus. Setiap hari kulewati kelas-kelas yang sering dia tempati. Perpustakaan pun tak lepas dari perintaianku sebulan ini. Namun Andre tak juga terlihat. Kemana dia?
“Cil, Andre kok gak ada ya? Kok dia ngilang gitu aja ya Cil? Apa dia sakit? Hapenya dihubungin juga gak bisa” eluhku pada Cicil.
“Ya mungkin dia lagi ada urusan”
“Tapi ini udah sebulan dia gak masuk, Cil”
“Hm atau dia cuti kuliah kali, Key”
“Cuti? Kok dia gak cerita ke aku sih?”
“Kamu siapanya coba kan? Yaudah tanya ke bagian kemahasiswaan aja” saran Cicil.
=0=

Setelah aku cari tahu, Andre memang mengajukan cuti selama satu semester kedepan. Alasan dia ke kampus sih mau kerja. Tapi satu hal yang membuat aku marah, kenapa harus dalam waktu sesingkat ini dan setiba- tiba ini tanpa babibu lagi!
=0=

Satu semester berlalu, dua semester pun juga sudah lewat, Andre belum juga terlihat dikampus. Aku masih selalu mencari informasi tentangnya. Perasaanku mengatakan, Andre baik- baik saja disuatu tempat, tapi alasan dia menghilang secara tiba- tiba ini yang aku tak tahu. Aku khawatir. Aku mulai memberanikan diri bertanya kepada teman satu kelasnya, menanyakan alamat kosannya, mendatangi kosan dan bertanya ke ibu kostnya pun sudah. Tapi tetap nihil. Aku lelah. Sudah setahun aku begini. Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan kekecewaanku pada Andre. Sakit.
Jika memang kamu dan aku dipertemukan hanya untuk saling melupakan, aku lebih memilih tak pernah ada pertemuan. Menghapus sebuah nama dari memori otakku sudah aku coba perlahan dan menggantinya dengan nama-nama baru pun sudah pernah aku lakukan. Tapi organ tubuhku lainnya menolak menghapus, Ndre. Organ ini kekeh mempertahankanmu tetap terkunci baik disana, dihati.
=0=

“Selamat sayang akhirnya Graduation kita hari ini! Selamat buat kesuksesan kita dan semoga kedepannya kita tambah sukses dan terus saling dukung yaaa” Cicil mengangkat gelasnya dan mendekatkannya ke gelasku.
“Cheeeers”
Hari itu adalah hari kelulusan aku dan Cicil. Sudah jalan 2 tahun-an sejak kekecewaanku terhadap seseorang dimasa itu. Ya Andre tetap belum berkabar.
=0=
Pagi itu aku sibuk dengan persiapan hari pertama ngantorku sebagai akuntan disalah satu perusahaan Desaign Lighting. Rasanya bahagia dan tidak percaya secepat ini waktu membawaku menuju proses hidup di fase yang satu ini. Fase kedewasaan, dimana menjadi orang dewasa adalah scene drama terberat dalam hidup.
=0=

Perjalanan karirku selama satu tahun belakangan bisa dikatakan cukup lancar, ya sesuai targetku. Disela- sela pekerjaanku, aku tak pernah lupa tetap menjaga hubungan persahabatan dengan Cicil yang saat ini sudah menikah dengan teman lamanya, Bryan. Dan setiap akhir pekan adalah hari wajib bagi kami untuk menghabiskan waktu berdua. Dan Bryan tidak boleh protes!
=0=

Isakanku makin menjadi- jadi saat Cicil menyebut nama itu lagi, rasanya tersayat hingga sakitnya tambah dalam. Ya, sakit.
“Andre pasti udah punya kehidupan lain disana, Key. Udah deh kamunya juga harus move on. 3 tahun bukan waktu yang singkat buat menunggu sesuatu yang gak pasti kayak gini Key. Aku gak mau ngeliat kamu sedih terus- terusan, menanti kepastian yang kamu sendiri gak yakin kan? Udah lah Key, diluar sana banyak yang lebih dari Andre, yang bisa nerima kamu apa adanya, yang bisa menghargai kamu sebagai wanita, dan yang mau menjaga hatinya selalu buat kamu. Bukan Andre.”
Tangisku tambah meledak, nafasku tersengal- sengal menahan sesak. Aku kehabisan akal dengan apa yang aku lakukan. 3 tahun menunggu kabar dari Andre, yang notabene bukan siapa- siapa. Tapi keyakinan di hati yang selalu mengusik dan menguatkanku untuk selalu dan tetap menunggu. Keyakinan itu mengatakan bahwa Andre pasti kembali, untukku.
“Aku capek, Cil. Aku capeeek. Aku marah sama Andre. Kenapa dia meninggalkan perasaan yang begitu besar ini di aku? Aku gak suka perasaan ini cuma tersimpan gini aja tanpa Andre tahu. Aku butuh dia tahu apa yang aku rasain, Cil. Aku butuh dia ada disini, aku butuh penjelasan. Aku butuh itu semua, Cil.” Suaraku sudah tak karuan, terdengar sengau.
=0=

Pagi ini aku mendapatkan seikat bunga cantik diatas meja kerjaku. Ada secarik kertas wangi bertengger pula disana.
Aku selalu melihatmu, mengawasimu, dari dulu hingga saat ini. -A-
“A? Andre?” sontak aku kaget.

Bersambung...

Pembelokkan Hati (Part 1)


Cinta tak pernah salah. Tak kenal siapa, kapan dan dimana kita dipertemukan, menjadi paduan indah berbalut bahagia. Tak tahu alasan apa dan kenapa pada suatu rasa yang bak anugrah Sang Pencipta. Indah.
“Lihat langit itu, Cil” kataku sembari menunjuk gerombolan awan yang membentuk kepala beruang pagi ini ditempat favorit aku dan Cicil, sahabatku.
“Yang mana sih, Key?” Cicil menolehkan kepala dan mengitari pandangannya ke langit biru itu.
Ya, aku biasa menghabiskan akhir pekanku dengannya. Kadang berkeliling mencari tempat baru yang mempesona, jogging mengitari stadion kota sambil mencuci mata, atau sekedar berbaring di loteng gedung ini. Di gedung kampus kami dulu, tempat yang tenang dan belum banyak orang yang tahu.
“Kamu percaya takdir gak, Cil?”
“Percaya! Setiap jalan hidup manusia itu sudah diatur,Key. Ya itu yang namanya takdir”
“Lalu, apakah semua orang akan bertemu dengan pasangan sejatinya? Dan bagaimana dengan aku yang bego ini, Cil? Apa penantianku untuk dia selama ini akan berakhir sia- sia atau berakhir bahagia?”
Cicil mendekap aku yang mulai terisak, sesak rasanya. Ingatanku kembali berputar ke 3 tahun silam. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, sosok pria yang sampai saat ini masih aku tunggu, dan tak tahu sampai batas mana.
=0=

Siang itu, aku duduk dipelataran kantin bersama Cicil dan beberapa teman kampus. Tanpa sengaja mataku bertemu pada sepasang mata lain yang begitu hangat. Dia tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya sembari berlalu menuju kelas. Dia santun, manis, dan menggetarkan.
Aku terdiam sesaat hingga lamunanku menyadarkan hilangnya aku dalam gerombolan tawa teman- temanku.
“Key, kamu kesambet hah? Daritadi kita ketawa- tawa kamunya mah diem aja, bengong gitu” sambar Cicil mengganggu lamunanku.
“Hm eng..engga papa kok hahaha sori yaa”
=0=

Satu semester ini sudah berapa puluh kali aku memanjakan mataku bertemu dengan mata yang hangat itu. Aku membiarkan perkenalan ini berlangsung lama tanpa pernah berucap kata. Hatiku sudah cukup bahagia tiap kali pertemuan mata itu singgah sesaat, walau beberapa detik saja.
Aku mengagumi dalam diam. Suaraku tak bervolume setiap nafasmu teraba oleh pendengaranku. Dari kejauhan kamu sudah begitu indah, lebih dari cukup. Maka izinkan aku tetap begini, sebagai pengamat setiamu, mengagumi kehangatan yang Tuhan beri, dimatamu.
=0=

Suatu hari, aku tak sengaja menjatuhkan dompetku di pintu perpustakaan dan saat aku kembali, sosok lelaki bertubuh tinggi, putih, dengan alis tebalnya sedang memegang benda itu sambil tersenyum. Begitu manis.
“Ini punya kamu? Lain kali jangan teledor gitu kenapa” ujarnya sambil memberikan dompetku.
Aku yang hanya diam tak cukup kuat melontarkan kata- kata terima kasih atau sebagainya. Ini pertama kalinya selama satu semester aku mendengar suara pemilik mata hangat itu! Ooh damn, I love it!
Punggungnya perlahan menjauh dan lamunanku menghilang.
“Mas! Makasih ya!” teriakku pada sosok yang menjauh itu.
=0=

Sejak kejadian di pintu perpustakaan itu, malamku menjadi sedikit rumit dari malam biasanya. Pikiranku berkeliaran entah kemana hingga aku sendiri bingung dengan yang aku rasa. Yang aku tahu, mata itu bukan hanya hangat, tapi juga suara itu, sedikit berat namun menenangkan.
=0=

“Hai Key, sini aku bantu” suara yang tak asing itu terdengar persis di telinga kananku.
“Lain kali kalo parkir itu yang bener, hobinya kok ngawur
“Iya mas, aku tadi buru- buru hehe”
“Key, kamu mau langsung pulang nih?”
“Iya”
“Temenin aku ke toko buku depan bisa kan?”
“Anjirrrr! Mimpi apa aku semalem Tuhan…….. “  gumamku dalam hati.
“Baiklah bos! Sebagai rasa terima kasih yang ntah keberapa kalinya, permintaan anda saya kabulkan hehe” tawaku langsung sumringah diikuti jempol tangannya yang keluar.
=0=

Rasa nyaman akan membuatmu begitu saja menuangkan cerita pada seseorang yang bahkan belum pernah kamu kenal sebelumnya. Bibirmu tak bisa terkatup, terus saja mencuap- cuapkan segala jenis bahan cerita dan tertawaan hingga kamu lupa bahwa kamu belum mengetahui, namanya.
“Mas, sori nih bukannya sombong atau gak sopan atau apa ya. Satu pertanyaan penting yang mau aku ajukan buat mas. Boleh?”
“Oke boleh, apa?”
“Boleh tahu namanya siapa gak mas? Hahahahha” aku tertawa hingga seluruh badankku terguncang.
Bego! Kalo mau kenalan gak gini juga caranya dek hahaha Namaku Andre. Aku aslinya Jakarta. Aslinya sih anak mama, tapi semenjak mamaku meninggal 2 tahun lalu, aku jadi anak kosan di Jogja ini dan kalau pulang sih ya aku tinggal bertiga doang sama Papa dan adik laki- lakiku. Gimana? Kurang lengkap? Jangan aja kamu tanya aku angkatan berapa loh ya, malu aku hahaha”
“Iya aku tahu kok, mas angkatan tua kan? Hahaha”
Sejak perkenalan itu aku tahu, bahwa Andre adalah sosok yang menyenangkan, mandiri, dan penyayang. Ya nampak dewasa dan menenangkan. Dia adalah seniorku dikampus, perbedaan usia kita sekitar 2 tahun. Dan entah kenapa aku merasa telah mengenal Andre begitu lama, begitu dekat.
=0=

Sejak saat itu, kampus menjadi lebih mengasyikkan bagiku. Aku, Andre, kantin kampus, hujan dan segelas cappuccino hangat menemani obrolan kami sore itu, manis. Semanis itu juga rasa yang Andre titipkan di organ hatiku. Lagi- lagi semesta keren dengan keajaiban rasanya ya?
=0=

“Mas Andre! Mas!” aku memanggilnya sembari berlari kecil.
“Eh Keyla, kenapa?”
“Ayuk mas temenin aku yuk nyari bahan buat laporannya Pak Syueb nih besok dikumpulin, atau mas Andre punya bahannya mungkin?”
“Yah gak punya nih sori yah, lagian aku hari ini ada keperluan, Key. Jadi gak bisa nemenin kamu”
Sorot mataku tiba-tiba terlihat redup. Dan pintarnya dia langsung mengetahui itu.
“Tapi besok aku punya rencana keluar, ke suatu tempat. Mau ikut?” saut Andre merubah moodku dua kali lipat jadi lebih baik.
Is it dating huh?” gumamku sambil mengangkat kedua jempol tangan dan berlari.
“Jemput aku dirumah jam 4 sore besok dan awas aja kalo telat ya mas! Daaaah”
Terima kasih semesta yang keren! Senyumku tak hilang hingga esok harinya tiba.
=0=

“Kemana kita? Aku saltum gak sih ini, mas?”
“Udah gak papa, jeans dan kaos cukup. Yuk!” dia mengegas motornya dengan kencang dan membawaku ke dunia yang begitu aku sukai. Dunia imajinasiku yang sedang dibawa berkuda oleh seorang pangeran tampan. Aaaaaah.
“Sudah sampai, tuan putri” ujarnya menghapus lamunanku.
“Kebun binatang? Serius ini mas? Mau ngapain?” balasku ragu.
“Serius lah, ngapainnya? Lihat aja nanti. Yuk!” dia menarik pergelangan tanganku pelan. Deg! Aku mau mati!
=0=

Jika tiap lelaki yang pernah mengajakku dating selalu mengajakku ke tempat- tempat romantis atau candle light dinner-an. Maka Andre adalah orang pertama yang membuatku terkesan. Tempat ini tidak terlalu buruk ternyata. Banyak hal- hal menarik di dalamnya dan membuat ini sungguh berkesan. Mengitari tempat ini berjam-jam sembari memberi makan hewan- hewan lucu nan menggemaskan. Duduk- duduk dibawah pohon sembari melontarkan candaan garing. Yah, dia berhasil meninggalkan kesan yang….mendalam.
“Kamu ngerasa aneh gak kita ngedate disini, Key?”
What? He said it’s a date? Huahahhaa. Hm gak lah mas, malah aku seneeeeng banget. Seumur- umur orang ngedate di kebon binatang ya baru mas ini, aneh iiih”
“Hahaha tapi suka kan, Key?” dia memicingkan matanya.
Ya, aku paling tidak bisa menipu diriku yang begitu lemah jika menatap mata hangatnya itu, dia mengingatku pada papa. Ya, sehangat papa. Setua itukah sosoknya? Hahahaha

Bersambung...

Selasa, 12 Februari 2013

Sinkronisasi otak dan hati


Untuk kamu, dimanapun tempat singgahmu sekarang


Selamat pagi sayang..
Sapaan ini akan aku tujukan padamu, nantinya
Bagaimana kabarmu disana? Sudah lelahkah? Lekaslah kembali kesini, rumah singgahan terakhirmu

Hai kamu, masa depanku yang sedang berpetualang disetiap hati
Tidakkah kamu tahu, bahwa sebelum mengenalmu pun aku sudah memikirkan kita, ya kamu dan aku
Hai kamu, si pemilik tulang rusukku
Saat hatimu sekarang sedang tertambat hati lain, akankah itu berlangsung lama hingga aku harus menunggu sampai tak tahu batasannya?
Hai kamu, si calon imamku
Belajarlah dulu dari setiap proses hidupmu ini agar kelak kau fasih dalam memimpinku, calon pemupuk generasimu
Hai kamu, si penikmat suguhanku
Kelak akan ku buatkan kopi ternikmat untukmu, jauh lebih nikmat dari yang kau minum di tiap warkop kunjunganmu

Kelak kita akan duduk diteras rumah sambil meneguk kopi kopi itu setiap hari
Menceritakan lucunya petualangan hati masing-masing, hingga pertemuan yang membentuk, kita
Merancang indah kedepan sampai penghabisan waktu senja
Dan saat itu, aku tahu bahwa Tuhan memang menciptakan sela- sela jemari kita ini untuk saling menggenggam
Menciptakan pundakmu untuk kusenderkan, menciptakan air mataku untuk kau hapuskan
Menciptakan kekuranganku, untuk kau sempurnakan

Sayang,
Jika kau lelah dengan hidupmu yang terus berputar dan belum menemukanku,
Percayalah bahwasanya hati ini memiliki radar
Radar yang akan membawa sepotong hati, kepada pemilik potongan lainnya
Radar yang akan membawa kita pada suatu pertemuan suci, dalam ikatan yang diridhoi
Sayang,
Jika hatiku masih melihat keindahan hati lain, percayalah ini hanya proses hidupku, untuk menemukanmu
Sayang,
Jika aku dan kamu belum juga bertemu,
Belajarlah bersabar, lalu kelak kau ajari aku arti sebuah penantian yang akan berbuah kebahagiaan

Dari aku, masa depan yang senantiasa menunggu

(ditulis sejam pasca teknikal tes dan interview, nampaknya otak sama hati butuh sinkronisasi Zzzz)

Jumat, 08 Februari 2013

Iyein aja deeeh

Konsisten memang susah. Mungkin bicara memang lebih gampang daripada melakoninya. Dan saat ini aku memang lagi belajar ekstra sama si konsistensi ini. Lagi sedikit diuji juga. Dan semoga tetap konsisten :)

Ceritanya, sebagai jobseeker yang tiap hari hobinya bacain koran tapi khusus dihalaman iklan dan loker atau rajin internetan cuma buat searching lowongan kerja, belakangan selalu timbul keraguan untuk mencoba. Ya, beberapa waktu lalu sudah merasakan bagaimana yang namanya interview kerja dan mendapatkan pertanyaan yang cukup mengagetkan.

Sebelumnya sih belum pernah kepikiran buat merasakan diberi pertanyaan yang principal semacam ini. Aku berfikir dijaman saat ini hal ini gak bakal jadi pertimbangan suatu perusahaan dalam merekrut karyawan. Tapi ternyata salah.

Aku adalah seorang muslim yang sedang belajar sebagaimana yang dianjurkan agama dalam menutup aurat. Sudah hampir 2tahunan ini upaya belajar itu aku lakoni dan hasilnya ya masih cacat disana sini. Mungkin belum bisa 100% menjalankannya, ya contoh kecilnya saja saat dirumah ya belum bisa jilbaban. Atau kalo ada tamu kerumah ya tetep alakadarnya tanpa penutup kepala. Gak muna juga sih apa yang aku jalani masih jauh dari sempurna. Tapi aku berupaya konsisten saat berpergian keluar rumah, ke kampus atau main pasti.

Nah beberapa minggu lalu saat mengikuti interview sebuah perusahaan, aku mengalami yang namanya penolakan. Begini pahitnya ya ternyata? Tapi ntah kenapa, dibalik penolakan itu malah tidak ada rasa kecewa yang kebangetan, ya paling cuma gumun  yang berlebihan (yo podo wae dab)

Dari awal datang ditempat interview, mental udah sedikit turun, peminatnya memang cukup banyak, sekitar 50an orang. Dan pengguna jilbab hanya sekitar 5 orang. Kualifikasi dari perusahaan tersebut sih sebenarnya cukup membuatku percaya diri, karena  menargetkan postur tinggi badan (ceritanya mau sombong) hehe. Lumayan lama nunggu, sekitar 2jaman, nah tibanya waktu aku yang interview, asli gugupnya udah gak ada. Kerasanya santai, tenang dan lancar. Sampai akhirnya si interviewer menanyakan kesanggupan aku jika melepaskan jilbab saat bekerja. Sontak aku cukup kaget dan bingung harus jawab apa, disatu sisi pekerjaan ini cukup menjanjikan, sedangkan disisi lain aku sudah terlebih dahulu membuat janji pada Si Bos Besar. Aku terdiam sesaat, berpositif thinking kalau bapaknya ini sedang menguji loyalitasku. Dengan santai aku menjawa “ya, kalau bisa sih tetap dipake pak hehe”. Dan si bapak tersenyum lalu melanjutkan pertanyaan selanjutnya.

Sedikit lega juga melihat mimik muka si bapak yang nampaknya puas dengan jawabanku. Setelah beberapa pertanyaan lewat, bapak interviewer ini menyanyakan hal yang sama lagi dengan lebih tegas dan sembari menjelaskan.
“jadi gimana mbak bersedia gak jika saat bekerja nanti jilbabnya dilepas, karyawan kita yang lain yang menggunakan jilbab juga gitu kok. Pergi dari rumah mengenakan jilbab, setelah sampai kantor dicopot, pas pulang dipake lagi nanti, gimana mbak? Habisnya sejauh ini kita gak punya karyawan yang menggunakan jilbab mbak”

Toeng! Ini bapak niat banget ngasih penjelasan, dan kontan aku menjawab “ haduh, saya sih gak bisa, maaf ya pak” Zzzz aku berasa hebat banget bisa ngomong begini! Berasa menjadi superhero buat diri sendiri. Rasa takut buat ngomong GAK bisa dilawan, dan setelah dipikir- pikir jawaban ini menurutku terkesan gak butuh kerjaan. Padahal? Ngebet bangeeet.

Dan setelah selesai interview dengan hati yang 80% pesimis aku keluar ruangan dan menemui beberapa teman yang berjilbab lainnya. Dan 2 diantara mereka juga ditanyakan hal yang sama.
Dari sini tadi aku berfikir, apa iya jilbab menjadi penghalang kita dalam mendapatkan pekerjaan? Memangnya ada yang salah? Mengganggu? Atau apa sih? Sejujurnya belum bisa terima alasan yang masuk akal tentang ini. Setelah dari interview itu pun aku langsung searching di google dengan maksud mencari cerita tentang orang- orang yang mengalami nasib serupa, dan ternyata banyak. 

Well, diotak udah makin banyak tanda tanya. Kenapa siiiiih? Merasa terdiskriminasi? Jujur iya! Toh ruginya buat perusahaan apa? Dari pencitraannya? Atau apa? Ntah lah ya, yang pasti sampai saat ini jadi ada aja pikiran dan tanda tanya tiap mau masukin lamaran, “ini nanti perusahaannya nyari yang gak jilbaban gak ya” hahaha absurd!

Mungkin ini cara Allah menguji kesungguhan aku dalam belajar, memberikan pilihan sulit yang bisa saja menjadikan aku kearah yang lebih baik atau buruk. Menunjukan kemana langkah yang sebaiknya aku pilih, atau membantu aku mencapai dan mengerti arti konsistensi yang sebenarnya. Ya insyallah mulai belajar lebih baik soal ini.

Aku percaya bahwa rejeki, jodoh dan kematian sudah diatur oleh Si Pemilik Alam, dan jika memang bukan saat ini, ditempat ini, pasti ada jalan lain yang memang sudah disiapkan khusus buat aku, dan pasti itu yang terbaik. Iya kan? Iyein aja deeeeh :D

Rabu, 06 Februari 2013

Howdy?



Aku selalu menyukai bagian ini. Bagian dimana titik- titik jenuhku berkurang, mulai memudar, dan bertransformasi menjadi riak kebahagiaan. Bagian dari hidup yang setiap kali terulang ini, memang menyenangkan. Tapi harus selalu siap dengan kemungkinannya yang cepat menghilang. Namanya adalah pertemuan. Sebuah proses dari perjalanan hidup yang menghubungkan aku dengan sosok- sosok baru yang menghadirkan tanda tanya.

Pertemuan memiliki masa yang terkadang singkat, tapi terkadang waktu begitu lamban menahannya. Hingga sebuah pertemuan menghadirkan sebuah keajaiban, sebuah makna. Rasanya seperti...ah, tak terdefinisikan. 

Memang terkadang Tuhan punya cara yang lucu untuk sebuah pertemuan. Memberikan kesempatan singkat untuk saling sapa, dan setelah itu? Tak bisa lupa. Dan jika saat ini aku sedang melakoni sebuah drama, ingin rasanya membaca skrip hingga akhir, agar setiap langkah menapakkan sebuah kepastian.


Kepastian? HAHA apa itu? Hal yang tidak pasti didunia ya terkadang kepastian itu sendiri. Jika saat ini kita berjalan kearah yang berbeda, anggap saja Tuhan sudah membuatkan jalur melingkar yang berakhir di ujung pertemuan. Jika masanya tiba, saat aku sampai dititik itu, dan begitu pula titikmu, maka saling sapa itu akan terulang. Jika tidak, anggap saja kelelahan sudah mendahului sebelum kita sampai dititik temu itu.

Jumat, 01 Februari 2013

Istiqomah Nurfitri


Berawal dari keisengan ngebuka file foto- foto jaman SMA yang penuh aib dimana- mana. Kelakuan jaman dulu yang membuat kepala geleng- geleng gak percaya pernah ada di fase itu. Lintasan- lintasan cerita kembali lalu lalang berkeliaran liar dikepala. Sambil sedikit tertawa dan mengembunkan kebahagiaan di mata. Aaaaaah masa itu :’)

Satu persatu gambar gambar di folder bercerita tentang keseruan di masanya. Dan yang lumayan sering mampang ya foto aku sama kamu, isti :) Istiqomah Nurfitri. Nama yang islami dan menyejukkan orang yang mendengar. Dan gak salah memang, wanita berjilbab ini memang lebih taat dari kita- kita pas jaman SMA dulu hahaha 

Aku tahu isti sudah dari jaman SMP, ya salah satu senior KIR jaman itu yang terlihat serem, galak, dingin dan pintar. Tapi perkenalanku dengan isti waktu SMP kurang terlalu dekat hingga akhirnya kita satu kelas jaman SMA. 3 tahun sekelas dan 2 tahun sebangku ngebuat pemikiran awalku dulu berubah. Isti gak sedingin yang dibanyangkan, dia seru dan cacatnya menyetarai aku. Banyak kesamaan memang diantara aku dengan isti. Mungkin karena sama- sama berzodiak Aries kali is ya? :D

Kalau ngeliat isti mah berasa lagi bercermin, secara fisik kita gak jauh beda, ya sama- sama besar :D dari gaya sepatu yang agak kegedean atau bahkan jamannya kita ngasih plester gambar bintang- bintang dan lope- lope disepatu kita, aksesoris tangan yang gak pernah ketinggalan, gak gelang tali- talian ataupun  jam tangan, dan hobi pake cardiganan kalo ke sekolah :Du 

Isti itu orangnya aktif berorganisasi, sering aku ikutan bolos jam pelajaran cuma buat ikutan isti rapat atau sekedar keluar gak penting dari kelas. Apalagi jaman- jamannya diajar pak suyoko, alasan solat jadi nomer satu buat bolos hahaha sengaja banget niatin solat lama- lama biar telat masuk kelas. Leyeh- leyeh di mesjid dulu lah, ngobrol dulu lah, ke kantin dulu lah. Apalagi kalo udah sama agung sama taufik aaaaah bisa sejam kemudian deh masuk kelas :D

Selain sama pak suyoko, aku sama isti juga pernah kena dampret guru killer se- Smanli. Ibu Hikmah Rais. Guru matematika. Ya, waktu kita lagi asik ngobrol (lupa ngobrolin apa) di kelasnya beliau tiba- tiba sebuah penghapus papan tulis mendarat bebas dimeja kita berdua. How lucky we are! Untungnya penghapus itu gak mendarat di jidat kita istiiii :D hasil akhirnya apa? Kita diusir keluar kelas terus kita kayak orang bego duduk ndelesor di depan kelas sambil ketawa- tawa bingung harus ngapain. Akhirnya nemuin mem tetty, wali kelas kita. Bla bla bla~ untung kasus gak berlanjut.

Kreatifitas isti memang patut diacungi jempol, ide- ide segar ya ngalir gitu aja. Kadang cuma sekedar coret- coretan bebas dan berakhir di komik super cacat yang kita bikin. Komik yang bercerita tentang 2 superhero yang menyelamatkan kota dari serangan monster mesin besar yang ngamuk- ngamuk karena dia lagi sakit gigi (mungkin ini terinspirasi sama kebiasaan kamu yang hobi sakit gigi dikelas ya is). Karakter yang kita bentuk pun menyerupai tuyul- tuyul versi upin ipin gitu. Pemikiran aneh yang sekarang kok ya keingetnya luar biasa loh is :’)

Semasa dijogja pun jalan- jalan seru kita masih banyak. Tiap gambar- gambar ini ngedongengin aku tentang sebuah kebersamaan. Dan satu hal yang sampai sekarang masih suka aku lakuin ya is, kalo ada tugas yang berkaitan sama karya tulis atau apalah itu pasti larinya ke kamu hahahahaha thanks a lot :*

Aaaaah banyaaaaak banget hal- hal kecil tapi dampaknya memorable banget. Kamu udah nyeritain banyak juga di tulisan kamu tuwit ! :) hihi. Ya anggep aja ini surat balasan dari aku :D isti yang aku liat sekarang sih udah tambah dewasa, tambah sholehah, tambah pinter, tambah aktif, tambah banyak cerita dan tambah ngangenin. Uuuu peluk jauh dari jogja ke bogor yaaaaaaaaaa :D (lagi dibengkulu apa bogor kamu is?)

Ceritanya kita masih bakal bersambung lagi~ as soon as possible!