Senin, 11 November 2013

Thor: The Dark World, Review



 

Film ini adalah film terakhir yang aku tonton, lebih tepatnya di awal bulan November ini dan mumpung masih fresh untuk diingat, maka Thor: The Dark World pun kupilih untuk dijadikan bahan review film perdanaku. Sekuel kedua dari film Thor tahun 2010 ini, masih menyajikan cerita tentang dewa ganteng dari Asgard, siapa lagi kalau bukan Thor (Chris Hemsworth).

Kali ini Thor kembali lagi ke bumi setelah mengetahui bahwa wanita idamannya, Jane Foster (Natalie Portman) tanpa sengaja telah menemukan Aether, sebuah sumber energi mematikan yang dicari-cari oleh para kaum Dark Elves yang dipimpin oleh Malekith (Christopher Eccleston) beribu- ribu tahun lamanya.

Thor pun akhirnya membawa Jane ke Asgard guna melepaskan sumber energi itu dari dalam tubuh Jane, namun siapa menyangka bahwa hal itu mengundang Malekith untuk menyerang Asgard, hingga akhirnya peperangan pun terjadi. 

Asgard yang sudah luluh lantak di tangan Malekith dkk, membuat Thor mau tidak mau meminta bantuan Loki (Tom Hiddleston) untuk ikut serta. Film ini banyak di bumbui kekonyolan baik di Asgard maupun di bumi, seperti munculnya karakter Captain America yang mengundang tawa, dan Erik Selvig (Stellan SkarsgĂ„rd) yang “gilanya” makin menjadi-jadi. Belum lagi teman Jane, Darcy dan asisten magangnya yang sedikit membuat geli penonton sehingga film yang berdurasi kurang dari 2 jam ini terasa begitu singkat. Ya, film ini sukses menjauhkan penonton dari kebosanan.

Namun sebenarnya, sekuel kedua ini agak terkesan “memaksa” dan jika dipikir lebih jauh mungkin menjadi “ah kok bisa sih”, kurang lebih begitu. Selain Loki yang mendadak humoris di bandingkan sekuel pertama dulu, ada kekuatan berupa perpindahan dimensi yang agak sulit diterima nalar. Palu dimana, Thor-nya dimana. Musuh terpental ke dunia mana, Thor-nya ke dunia lainnya. Tapi memang aku akui, akibat perpindahan dimensi yang terkesan “maksa” ini menjadikan film karya Alan Taylor ini tidak berat untuk ditonton. 

Banyak kejutan di akhir cerita, Loki yang ternyata belum mati. Odin dibagian akhir yang ternyata Loki. Dan Thor yang meminta untuk menjadi rakyat biasa demi menikahi Jane. Pusing? Maka dari itu, silakan tonton saja filmnya, recommended! 

Minggu, 10 November 2013

Adik kecil

As simple as, "kok kurusaaaaan, makanya jangan begadang!" ke kakak sendiri itu manis ya? Iya.

Kita tumbuh bersama dan ternyata sudah sejauh ini. Kita bukan lagi bocah ingusan yang suka koloran kalau di rumah. Tapi aku bahagia karena kita tetap punya hobi yang sama, hobi ndusel mama saat tidur.

Bro, boleh jadi komunikasi kita tidak intens. Boleh jadi kita tidak tau keseharian masing- masing. Boleh jadi kita tidak biasa berpelukan seperti kakak adik lainnya. Tapi kita tau kalau kita saling peduli kan?

Apa kabar cekcok ringan tiap hari seperti dulu? Tampaknya yang ada tinggal rindu akan usilmu. Bagaimana rasanya dimarahi mama saat tangis kubuat mendramatisir? Duh apa sekarang masih berlaku ya?

Hahaha ini waktu yang begitu cepat berjalan, atau kita yang terlalu fokus pada proses dewasa masing-masing?

Sedewasa apapun kita saat ini, kita tetaplah dua bocah kesayangan mama. Kamu, kakak yang selalu menjadi tameng kesalahan. Dan aku, adik kecil yang selalu berlindung di balik punggungmu. Hahaha curang? Biar.

Malam penuh rindu, saat dimintai pertimbangan tentang seorang gadis.

Jumat, 08 November 2013

Wake up!

Tentang transisi diri dan naik kelas dalam hal pertanggung jawaban. Iya, kira-kira begitulah kesimpulan tentang perbincanganku tadi malam dengan tante. Hidup itu harus ada prioritas, supaya jalannya terarah, nggak asal ngikutin kemana angin membawa.

Kehidupan pasca kampus ternyata memang lebih asik pun lebih memakan pikiran ketimbang TA dan tugas lainnya. Pertanyaan simpel tapi menohok seperti,
"Kerja dimana sekarang?"
"Nggak pengen cari yang lain?"
"Duh, disana gajinya lebih menjanjikan loh"

Atau...
"Calon gimana calon?"

Gleeeg. Males banget kan mendengar rentetan pertanyaan standar gitu terus-terusan? Et tapi jangan salah, untuk menjawabnya pun perlu persiapan fisik dan mental tahan banting. Elus- elus dada kalau ada yang nimpali tanggapan nggak enak atau respon yang kurang srek di hati. Ya walaupun yang keluar dari mulut cuma,
"Iya, masih belajar."
"Iya, nyari pengalaman dulu."
"Iya, ini masih nyari-nyari informasi."
"Iya, di doain yang terbaik aja."
"Iya, tolong ambilkan pisoooo."


Terkadang ada terlintas pikiran begini, apa aku terlalu dini masuk ke dunia "sadis" ini ya? Di usia 20 tahun harusnya aku masih unyu- unyunya hangout bareng temen-temen, cekakak- cekikik liatin mas-mas cakep sliweran, atau riweuh sama tugas yang bikin kurus kering nggak doyan makan.

Tapi semesta membawaku kepada dunia yang sesungguhnya, ke dunia yang isinya orang- orang ambisius akan hidupnya, di dunia yang persaingannya ada dimana- mana. Dunia yang membuat orang rela melakukan apa saja demi sebuah posisi. Dunia dimana teman bisa menjadi lawan dalam kursi persaingan.

Ya "kekejaman" pertanyaan diatas tadi hanya segelintir tusukan ngejleb yang sudah sering aku rasakan. Ingin sekali menjawab, "Duh, hidup mah selo aja om..tante..masih muda ini, ntar 3 tahunan lagi baru deh mikir yang serius- serius"

Tapi ternyata keinginan dan realita kadang memang nggak sejalan. Hidup itu keras, dan siapa yang kuat ya dialah yang bertahan. Kalau kita berpikir selo tanpa mau mengupayakan pertahanan atau menyerang, ya habislah kita.

Saat dunia ini menuntun kita ke hidup yang sebenarnya, kita pun terbentuk untuk siap dengan segala macam perjuangan untuk maju atau mempertahankan. Ada yang secara otomatis mengendalikan cara berpikir dan tindak- tanduk kita dalam menjalani proses ini. Sadar atau pun tidak.

Berpikir realistis itu sangat penting, karena pilihannya hanya 2, mau maju atau tertinggal. Jika tidak mau tertinggal oleh mimpi orang lain, maka bangunlah kita lebih dulu dan ubah itu semua agar namanya bukan lagi hanya sekedar, mimpi.

Jadi, tidak ada lagi kata "terlalu cepat" dan "belum siap", karena yang ada hanyalah "siap atau pun tidak, sekaranglah saatnya" dan "iya, atau tidak sama sekali".

Senin, 04 November 2013

Tuan Pendengar



Wahai Tuan yang nantinya akan banyak mendengar celoteh tak pentingku, beruntunglah kamu karena telah menemukan aku yang sesungguhnya.

Aku yang menceritakan hal sesepele mendapatkan baju diskonan, hingga anak ayam di pinggir jalan. Menceritakan kebodohanku kemarin hingga impianku esok hari. Menceritakan dengan penuh semangat tentang duniaku, tentang apa saja yang terlintas tanpa ingat bahwa aku telah mengulangnya. 

Sebuah cerita akan menjadi penting saat kita membaginya pada orang yang penting pula, bukan? Itu artinya, pundakmu sudah kutaruh sebuah kepercayaan besar.

Kepada kamu, Tuan yang dengan senang hati menjadi “telingaku” nantinya, tenang saja aku pun akan menimpali celotehanmu dengan antusias. Memicingkan mata dan tersenyum mengejek saat omonganmu mulai tak masuk akal. Mendengarkan penuh kidmat seraya terkagum dengan cara berpikirmu. Menjadi terlihat bodoh saat kamu yang berapi- api bercerita tentang ilmu yang kamu kuasai. Tertawa terbahak saat lelucon garingmu mulai mengisi obrolan. Dan tentu saja menjadi tempat kamu berkeluh saat letihmu mulai menggunung.

Berbicara dengan yang tidak tertarik pada kita secara pribadi terkadang menjadikan mulut enggan berucap, terkunci rapat, dan malas untuk berbagi. Karena diam bukanlah disebabkan habisnya bahan obrolan, melainkan lelah untuk tidak dihiraukan.

Maka Tuan yang baik hati, terima kasih jika nantinya berkenan hadir dan lekas persiapkanlah telinga itu untuk segala ketidakpentingan ini, ya?



Kantor, menuju jam makan siang

Jumat, 01 November 2013

Batik Besurek



Batik! Mahakarya dan budaya Indonesia yang patut dibanggakan dan dilestarikan. Mungkin batik identik dengan kekhasan Jawa, tapi jangan salah, daerah lain di Indonesia pun juga memiliki batik versi masing- masing yang tak kalah apik. Bengkulu contohnya, kota tempat aku dibesarkan ini punya batik khas yang bernama Batik Besurek. 

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, siswa- siswa sudah diperkenalkan motif batik dan bagaimana cara pembuatannya. Batik Besurek itu sendiri ada artinya, "batik" berasal dari bahasa Jawa yang artinya bisa dilihat di google, sedangkan kata “besurek” berasal dari bahasa Bengkulu “besurek”, yang kalau di bahasa indonesiakan menjadi “bersurat” dan dimaknakan menjadi “menulis”. Jadi bisa diartikan Batik Besurek adalah Batik Bertulisan.

Nah, untuk motif Batik Besurek sendiri menggambarkan tulisan- tulisan arab atau bisa disebut juga kaligrafi yang ditambahkan beberapa modifikasi seperti motif bunga raflesia, burung kuau, motif relung paku, dan motif rembulan.

Untuk cara pembuatannya sendiri tidak jauh berbeda dengan membatik versi Jawa, dimulai dari menggambar pola di atas kain sesuai dengan keinginan, lalu menyiapkan lilin, canting, wajan, kompor, pewarna pakaian, dan teman- temannya. Sampai ke proses pewarnaan, nanti ada proses pengeringan seperti diangin- anginkan, setelah itu baru melakukan proses pelorotan dengan cara direbus untuk menghilangkan lilin yang menempel di kain.

Aku ingat pertama kali membuat sajadah batik saat duduk di bangku SMP, dan hasilnya? Lumayan hancur hahaha tapi ada kepuasan batin sudah menghasilkan karya sendiri. 

Bagi yang menyukai batik, Batik Besurek ini bisa dimasukkan ke dalam list koleksimu loh. Selain motif yang unik, batik ini juga masih jarang penggunanya di pulau Jawa, jadi dijamin tidak pasaran. Ini beberapa contoh Batik Besurek yang aku ambil via internet. Cekidot!

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQKXW6ACppIea4VtFM54E3WuFQ3k5dshjG8K2bQtgZ3-9iATLct
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSo9nacAefmNPGbO_w9BCyWp7LH7MGBWbW_5PrlZi4N0zBsGnGLyw 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVfJbKtVwu9cSNiiaxZuIz_m4ynBvW_HL1zFfPdgNdwq0LfPsCzb_yaD1LEgCA2Ncq4uTkm9ePi5LLFcujpVbE7q98EiXiPkaPtjKxZR06LZJFMHTjq_eqbCMqJFt0vP2V13hSPyKAccM/s1600/27112012(007).jpg


-Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Pena Merah minggu ini tentang Batik.

Rabu, 30 Oktober 2013

Recharge


Mengejar Senja


Melakukan solo trip adalah obat penenang terampuh bagiku sejauh ini. Ya, tidak harus melakukan perjalanan jauh, namun menghilang sejenak dari hingar- bingar dan rutinitas sudah cukup membantu.

Me time contohnya, menyisihkan waktu untuk me-reward diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang memang ingin kamu lakukan tanpa adanya gangguan orang lain memang selalu sukses membangkitkan mood hingga 80%, atau bisa juga disebut recharge diri. Entah itu berkeliling mall sendiri, membaca buku, menonton film, ke toko buku, atau sekedar keliling tak tentu arah dengan sepeda motor hingga penat perlahan terkikis.

Hari jumat lalu contohnya, lagi- lagi aku sedang penat dengan rutinitas dan kepala rasanya butuh pendingin ekstra. Sehabis pulang kerja pukul 4 sore, aku berniat ke rumah Nanda hanya sekedar ingin say hello atau ha-ha-hi-hi sebentar, tapi kebetulan si empunya rumah sedang tidak ditempat. Maka dengan pikiran kosong aku mengegas mesin merahku ke arah selatan. Entah aku pun tidak tahu sebenarnya mau kemana kuarahkan setirku. Aku ambil jalan luruuuuus saja, agar gampang menemukan jalan pulang. Hingga saat memasuki jalan bantul, ide cemerlangku muncul. Pantai!

Dengan segera aku mencari palang arah yang menunjukan ke arah mana pantai terdekat yang bisa aku tuju. Pantai Samas. Pantai yang terletak sekitar 24 km selatan Yogyakarta. Aku melihat jam tanganku sudah jam setangah 5 lewat sepuluh, dan aku pun bergegas kesana agar timing sunset bisa aku dapatkan. 

Jujur saja aku bukan tipe orang yang gampang menghapal jalan, apalagi untuk daerah Bantul dan sekitarnya ini bagaikan negeri antah berantah yang sama sekali belum terjamah olehku secara mandiri selama di Jogja. 

Bermodal nekat dan bensin full tank, aku melaju sembari mengagumi jalan- jalan yang jarang aku lewati ini. Ternyata keluar dari rutinitas memang menyenangkan. Sesederhana mencari jalan lain menuju rumah, walau harus berjalan ke selatan dulu baru naik ke utara. Membuang tenaga dan bensin? Iya, tapi aku senang.

Kulihat langit mulai menguning, senja sudah tiba. Pantai Samas belum juga tercium keberadaannya. Aku berhenti sejenak di pinggiran sawah yang membentang di kanan kiriku. Kuperhatikan sejenak langit yang mengagumkan itu, kuambil telepon genggam bututku dan kujepret lukisan Sang Kuasa itu sembari mengucapkan syukur, Subhanallah indah sekali.

Kutancap lagi gasku, hingga debur ombak sudah agak terdengar. Jalanan makin sepi dan sejujurnya aku agak takut jika malam lekas tiba sedangkan aku buta arah begini. Kulihat palang pintu masuk Pantai Samar memanggil- manggilku, dan kujawab dengan senyum keberhasilan.

Tidak sampai 5 menit aku menikmati suasananya, suara adzan sudah berkumandang dan pantai itu begitu sepi untuk kunikmati sendirian. Seperti orang linglung, aku langsung tancap gas pulang sembari bersenandung sepanjang jalan.

Jalanan yang sepi, sawah- sawah, langit yang menguning, suara ombak, dan aroma pantai yang khas menjadi saksi jeritan bahagiaku sore itu. Aku berteriak sembari memacu motorku dan semoga saja tidak ada yang beranggapan bahwa aku frustasi karena putus cinta hahaha 

Terkadang kita butuh keluar dari lingkaran yang tampak mengukung, ya sebut saja rutinitas. Maka hal sesederhana menemukan tempat baru adalah obat semangat untuk memulai hari esok. Selanjutnya, aku ingin melakukan solo trip yang lebih ekstrim dan lebih jauh, karena menjadi bebas itu menyenangkan.

Kamis, 24 Oktober 2013

Anonymous #2

Seperti anak kecil yang lama tak merasakan tawa bersama teman- teman sebaya, seperti itulah bahagiaku mengenal sosokmu. Entah bahagia macam apa yang kamu tangkap, tapi aku punya definisi sendiri. Mungkin semacam  menemukan dunia baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya? Iya, bisa dibilang begitu.

Di hitungan hari ke-100 ini aku menemukan kamu dalam “kemasan” lain. Kemasan yang beraneka ragam, penuh kejutan, dan seperti teka- teki yang masih ingin kucari jawabannya. 

Melihat kamu itu seperti bercermin. Tampaknya sama, tapi saat aku mengangkat tangan kanan, di seberang sana kamu mengangkat tangan kiri, iya ternyata kita banyak perbedaan. Aku yang penuh dengan planing dan kamu yang sukanya mengalir. Aku yang hobi tidur, kamu yang susah tidur. Aku yang jam tidurnya terjadwal, kamu yang begitu fleksibel dan sengantuknya. Aku yang suka makanan aneh, kamu yang selalu bilang "makanan kok gitu". Aku yang paling tidak suka menunggu, kamu yang hobinya berlama- lama. Aku yang sudah lupa kapan terakhir kali olahraga, kamu yang hobi sekali futsal dan sepedaan setiap harinya. Aku yang tidak suka asap rokok, kamu yang perokok. Aku yang begitu manis, dan kamu tidak suka mengkonsumsi yang manis- manis hahahaha

Tapi ilmu penempatan diri yang kamu punya berhasil menggogrokkan satu persatu tembok perbedaan itu. Saat jam tidurnya aku, kamu bisa kasih waktu tanpa ribet mengganggu. Saat lagi sama aku, kamu bisa menahan diri untuk tidak merokok, saat sama aku kamu rela di buru-buru waktu, dan saat sama aku, aku tahu kamu lagi berusaha menjadi lebih baik.

Aku belajar banyak hal dari kamu. Tentang seindah- indahnya atau pun sebobrok- bobroknya hidup, tentang sejarah Islam yang sama sekali aku lupa pernah belajar itu di jaman sekolah, tentang runtuhnya Konstantinopel, perdebatan Islam- Kristen, bahkan tentang bola dan Moto GP sekalipun. Dengan kamu, aku jadi tahu tentang hal- hal yang tadinya aku tidak pernah mau tahu. Dengan kamu, aku tahu bahwa menemukan dunia baru itu menyenangkan. 

Terkadang aku masih tidak percaya bisa menemukan orang asing seperti kamu yang dengan ragam kejutannya ini dari miliaran orang di luar sana. Menemukan sisi lain dari hidup, menemukan partner berbagi ilmu, menemukan teman ngobrol yang seru, menemukan tetuah yang mengayomi dan iya, menemukan kamu.

Maka biarkan kita tetap berhitung sampai nanti semesta membawa kita pada pemberhentian yang sudah direncanakan. Bagaimana, deal?