ya walaupun belum bertemu pertanyaan seperti ini, persiapannya boleh dari sekarang kan ya? mihihi 20+ problems
Jumat, 18 Oktober 2013
Selasa, 15 Oktober 2013
Rumah
Jika nanti kamu lelah bermain diluar sana, maka rumah menjadi tempat kamu pulang. Rumah adalah ujung dari keletihan dan tujuan akhir dari perjalanan.
Mungkin kamu sedang penat, ingin melihat dunia luar yang katanya begitu megah, maka silakan kamu lihat kesana, namun jangan pernah lupa jalan kembalinya.
Rumah tidak pernah ingkar, ia akan menunggu tuannya kembali dengan tetap menjadi tempat ternyaman. Tempat dimana kamu tinggal, menghabiskan malam dan memulai hari kembali. Tempat dimana kamu tahu kemana harus pulang.
Memiliki rumah idaman adalah mimpi terbesar setiap orang. Kamu pun mulai mencicil untuk mewujudkannya. Dimulai dengan mencari lokasi terbaik, design yang sesuai dan yang paling penting nanti adalah pondasi terkuat.
Tak perlu mencari dengan tergesa-gesa, biarkan waktu yang menjawab dengan tetap melangkah walau sudah lelah.
Berjalan, berhenti sejenak, coba memasuki, mengenali, berkeliling, keluar, dan begitu selanjutnya hingga kamu temukan rasa nyaman yang membuatmu betah berlama-lama dan tidak ingin bermain keluar. Bukan hanya suka saat baru sampai di pintu masuknya. Agar kamu mengenal betul seluk beluknya, agar tidak menyesal memilihnya menjadi tempat hidup.
Suatu saat nanti kamu akan menemukan rumah, dimana bukan hanya sekedar singgah namun akan benar-benar menetap, hidup di dalamnya, dan pulang setiap hari.
Iya, rumah yang sudah dipersiapkan dan sedang menunggumu pulang, namun entah dimana.
Mungkin kamu sedang penat, ingin melihat dunia luar yang katanya begitu megah, maka silakan kamu lihat kesana, namun jangan pernah lupa jalan kembalinya.
Rumah tidak pernah ingkar, ia akan menunggu tuannya kembali dengan tetap menjadi tempat ternyaman. Tempat dimana kamu tinggal, menghabiskan malam dan memulai hari kembali. Tempat dimana kamu tahu kemana harus pulang.
Memiliki rumah idaman adalah mimpi terbesar setiap orang. Kamu pun mulai mencicil untuk mewujudkannya. Dimulai dengan mencari lokasi terbaik, design yang sesuai dan yang paling penting nanti adalah pondasi terkuat.
Tak perlu mencari dengan tergesa-gesa, biarkan waktu yang menjawab dengan tetap melangkah walau sudah lelah.
Berjalan, berhenti sejenak, coba memasuki, mengenali, berkeliling, keluar, dan begitu selanjutnya hingga kamu temukan rasa nyaman yang membuatmu betah berlama-lama dan tidak ingin bermain keluar. Bukan hanya suka saat baru sampai di pintu masuknya. Agar kamu mengenal betul seluk beluknya, agar tidak menyesal memilihnya menjadi tempat hidup.
Suatu saat nanti kamu akan menemukan rumah, dimana bukan hanya sekedar singgah namun akan benar-benar menetap, hidup di dalamnya, dan pulang setiap hari.
Iya, rumah yang sudah dipersiapkan dan sedang menunggumu pulang, namun entah dimana.
Senin, 14 Oktober 2013
PKL
Perkuliahan di Akademi (Militer) Akuntansi tidak akan terasa lengkap tanpa adanya matakuliah Prakter Kerja Lapangan (PKL) yang mempertemukan aku dengan orang terabsurd seperti ketua kelompok kami Mbak Susi, orang ter-cool di kelompok yaitu Mas Arif, orang terapeuh Melisa dan orang teraktif seperti Ony.
Dimulai dari susahnya mencari perusahaan yang cocok untuk dijadikan objek PKL, melobi siempunya perusahaan yang bersedia untuk dirusuhi dan menjadwal jam kosong kami yang terkadang susah klop.
Beberapa kali kami pindah perusahaan, hingga akhirnya berlabuh pada sebuah perusahahaan kontraktor jalan yang lokasi proyeknya di daerah Piyungan. Jauh? Banget.
Kami berlima memang tidak setiap hari bolak- balik ke tempat PKL, bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali tergantung kebutuhan data. Syukurnya bapak- bapak di proyek itu sangat open ke mahasiswa yang banyak maunya seperti kami ini. Saking baiknya, kami pun terkadang mendapat jatah makan siang (karena kebetulan datang di jam makan siang) hahaha
3 bulan menjalani PKL bersama, mempelajari bagaimana siklus produksi dan penggajian yang ada di perusahaan, mengumpulkan data-data dan tetek bengek lainnya. Dengan pertemuan kelompok yang intens, rasa senasib sepenanggungan muncul diantara kami berlima. Yang awalnya tidak saling kenal, jadi tahu watak masing- maisng. Yang tadinya saling diam dan jaim, jadi dekat satu sama lain. Yang tadinya jomblo ya tetep aja jomblo sampai PKL rampungan #eh
Jujur aku menyukai lokasi proyek kami yang bisa dibilang cukup ekstrim untuk anak akuntansi yang biasanya tidak pernah turun langsung ke lapangan, namun karena rasa ingin tahu kami yang begitu besar, lokasi proyek yang luasnya naudzubillah itu pun kami babat habis. Keliling- keliling ke tiap tahapan pengolahan, bertemu mesin- mesin super besar dan karyawan proyek disana menambah pengalaman baru yang seru.
Tidak berhenti keseruan kami di lokasi proyek saja, saat pembuatan laporan pun banyak hal seru yang sebenarnya sih menyebalkan, tapi malah dirindukan. Deadline yang mepet, data yang masih mentah, proses pembuatan alur (Flowchart) yang ruwet serta lagi- lagi sulitnya mencari jadwal kosong kami berlima.
Laporan yang sudah dibuat susah payah pun tidak bisa dijamin langsung diterima dosen. Pernah suatu hari saat antri konsultasi yang lamanya mengalahkan antrian BLT, aku, Ony, Mbak Susi dan Melisa bahkan sampai bergantian menunggu dan hasilnya apa? Laporan kami harus revisi lagi. Hasil kalkulasi revisi hari itu bisa nyaris 10 kali bolak- balik. Entah gambar dan simbol yang kurang paslah, atau siklusnya yang salahlah, intinya salah terus. Titik.
Saat riweuhnya laporan selesai, terbitlah keruwetan presentasi. Pembuatan laporan dan slide presentasi yang mepet membuat kami ekstra kerja keras. Untung semua berakhir bahagia, laporan di acc, presentasi lancar dan nilai akhir yang keluar juga sangat memuaskan, A!
Kami berlima pun sampai berikrar untuk mengadakan syukuran atas keberhasilan ini dengan berencana karokean atau sekedar kumpul santai, tapi lagi- lagi jadwal belum pas sampai detik ini. Padahal itu semua sudah lebih dari 6 bulan yang lalu hahaha
Nb: foto tanpa pernah ada Mas Arif -,-
Dimulai dari susahnya mencari perusahaan yang cocok untuk dijadikan objek PKL, melobi siempunya perusahaan yang bersedia untuk dirusuhi dan menjadwal jam kosong kami yang terkadang susah klop.
Beberapa kali kami pindah perusahaan, hingga akhirnya berlabuh pada sebuah perusahahaan kontraktor jalan yang lokasi proyeknya di daerah Piyungan. Jauh? Banget.
Kami berlima memang tidak setiap hari bolak- balik ke tempat PKL, bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali tergantung kebutuhan data. Syukurnya bapak- bapak di proyek itu sangat open ke mahasiswa yang banyak maunya seperti kami ini. Saking baiknya, kami pun terkadang mendapat jatah makan siang (karena kebetulan datang di jam makan siang) hahaha
3 bulan menjalani PKL bersama, mempelajari bagaimana siklus produksi dan penggajian yang ada di perusahaan, mengumpulkan data-data dan tetek bengek lainnya. Dengan pertemuan kelompok yang intens, rasa senasib sepenanggungan muncul diantara kami berlima. Yang awalnya tidak saling kenal, jadi tahu watak masing- maisng. Yang tadinya saling diam dan jaim, jadi dekat satu sama lain. Yang tadinya jomblo ya tetep aja jomblo sampai PKL rampungan #eh
Jujur aku menyukai lokasi proyek kami yang bisa dibilang cukup ekstrim untuk anak akuntansi yang biasanya tidak pernah turun langsung ke lapangan, namun karena rasa ingin tahu kami yang begitu besar, lokasi proyek yang luasnya naudzubillah itu pun kami babat habis. Keliling- keliling ke tiap tahapan pengolahan, bertemu mesin- mesin super besar dan karyawan proyek disana menambah pengalaman baru yang seru.
Tidak berhenti keseruan kami di lokasi proyek saja, saat pembuatan laporan pun banyak hal seru yang sebenarnya sih menyebalkan, tapi malah dirindukan. Deadline yang mepet, data yang masih mentah, proses pembuatan alur (Flowchart) yang ruwet serta lagi- lagi sulitnya mencari jadwal kosong kami berlima.
Laporan yang sudah dibuat susah payah pun tidak bisa dijamin langsung diterima dosen. Pernah suatu hari saat antri konsultasi yang lamanya mengalahkan antrian BLT, aku, Ony, Mbak Susi dan Melisa bahkan sampai bergantian menunggu dan hasilnya apa? Laporan kami harus revisi lagi. Hasil kalkulasi revisi hari itu bisa nyaris 10 kali bolak- balik. Entah gambar dan simbol yang kurang paslah, atau siklusnya yang salahlah, intinya salah terus. Titik.
Saat riweuhnya laporan selesai, terbitlah keruwetan presentasi. Pembuatan laporan dan slide presentasi yang mepet membuat kami ekstra kerja keras. Untung semua berakhir bahagia, laporan di acc, presentasi lancar dan nilai akhir yang keluar juga sangat memuaskan, A!
Kami berlima pun sampai berikrar untuk mengadakan syukuran atas keberhasilan ini dengan berencana karokean atau sekedar kumpul santai, tapi lagi- lagi jadwal belum pas sampai detik ini. Padahal itu semua sudah lebih dari 6 bulan yang lalu hahaha
Nb: foto tanpa pernah ada Mas Arif -,-
Kamis, 10 Oktober 2013
Akibat Niat Makan Gratis
Niat keliling sendirian, sebentar doang, dan nggak neko- neko pun batal saat Nanda muncul di Whatsapp. Jadilah kita berdua menggembel sore- sore ke Malioboro. Ngubek- ngubek Rama**na dan Mat**ari dari jam 5 sore sampai 7 malem dan hasilnya? Nihil.
Punya badan bongsor dan kaki jenjang ada enak dan nggaknya. Enaknya, tiap satu langkah kita sama dengan lari- lari santai orang normal, jadi nggak perlu membuang energi berlebih. Dan nggak enaknya adalah susah nyari celana panjang yang bener- bener cocok di kaki. Pasti ada aja salahnya, yang kependekkan lah, kegedean pinggangnya lah, sempit di paha lah, dan....mahal.
Kita pun nyerah lalu pindah lokasi ke Gale dan akhirnya nemu walapun hampir diusir sama siempunya toko karena udah jam 9 malem. Kita pun pulang dengan sisa energi yang nggak nyampe 40%, itu artinya butuh asupan makanan segera!
Niat jelek memang nggak bakal berakhir baik. Waktu lewat di daerah Sagan, tiba-tiba Nanda ngajarin aku untuk jadi anak jahat.
N : Mbel, kita nyari makannya ke tempat temenku yang jualan disono aja ya (sambil nunjukin lokasi target).
T : (masih kalem)
N : Bakal makan gratis deh kita mbel, yakin!
T: Serius mbel? (mata berbinar). Yok!
N : Tapi nyari ATM dulu ya jaga- jaga kalo dia lagi kesambet terus nggak ngegratisin kita.
Akhirnya kita pun tancap gas nyari ATM terdekat dan memutuskan berhenti di ATM Rumah Sakit Pa**i Ra**h. Lokasinya sih bisa dibilang agak horor. Letaknya disudut Rumah Sakit dan nggak ada lampunya! Awalnya sih nggak curiga sama sekali toh itu tempat umum yang pasti banyak penggunanya.
Masuklah Nanda ke ruangan misterius itu (ATM). Lumayan lama sih dan aku pun sempet mikir apa iya Nanda pingsan atau jangan-jangan dia menguras semua duit yang ada di ATM? Ini adalah tindakan kriminal dan aku harus mencegahnya! Eh tiba-tiba kepalanya nongol dari pintu ATM.
N: Kartu ATM-ku ketelen mbeeeeeel
Dengan keadaan lapar akut, kami berdua ngutik- ngutik mesin uang itu macam komplotan perampok. 3 menit ditunggu, duit dan kartu ATM nggak keluar. 5 menit, kita mulai panik. 10 menit belum ada kemajuan juga akhirnya aku nekat manggil Security minta bala bantuan.
Nanda bolak-balik nelponin Call Center tapi apadaya mungkin karena sudah malam maka mbak operatornya lebih milih bobok cantik daripada ngelayani telpon dari fans-fansnya. Bego, ini orang lagi panik tudemaks!
Saat berhasil nyambung dan baru ngobrol sebentar, raut muka Nanda bukannya bahagia atau sujud syukur sekalian eh malah pasang ekspresi nahan pup gitu.
N: Abis pulsa mbeeeeel
T: (tepok jidat Security)
Masalah satu belum selesai kok ya ada aja. Kita salah apaaaaaaa (elus-elus weteng kencot). Akhirnya setelah berhasil menghubungi Call Center melalui telpon Rumah Sakit, kita lega dan bergegas pulang dengan pikiran dan perut yang galau.
Kita yang berniat pulang pun berbalik arah ke TKP dengan penuh harap siapa tau duit dan kartu ATM nya keluar dengan tiba-tiba. Eh ternyata ada 2 mas-mas di ATM itu (sebut saja Mas 1 dan Mas 2), yang satu nunggu diluar, yang satu lagi di dalam.
N: Mas hati-hati loh ATM ini barusan memakan korban jiwa! Sebuah kartu ATM tertelan dan tidak diketahui dimana keberadaannya!
M1: Serius mbak? (dengan gugup si Mas 1 nyamperin temennya yang lagi ngorok di ATM). Men, ATM nya lagi error nih!
M2: Error apaan? Lah ini aku transaksi sukses kok.
T: Iya coba kita tunggu aja mas, kartunya nanti bakal keluar apa nggak (dengan tampang sok cool).
Kita berempat diam penuh hikmat menyaksikan detik-detik menjelang keluarnya kartu ATM si Mas 2 tadi. Dan, kartunya pun keluar dengan elegan!
T & N: Kooooook????? (pingsan)
Kita berdua jalan ke parkiran dengan terseok-seok penuh kepasrahan dan sakit hati mendalam. Kenapa Dewi Fortuna hari ini gak membuntuti kita. Apa dia lagi berantem sama pacarnya jadi dia pengen menyendiri dan ngelupain tugasnya melindungi gadis-gadis lemah seperti kita berdua ini?
T: Duh, kayaknya ini gara-gara kita niat makan gratis deh mbel.
N: Iya kali ya, udah makan nggak dapet, eh kartu ATM ketelen. Apes! Ditambah lagi kok kartu ATM Masnya nggak kenapa- napa sih tadi? Mesinnya pilih kasih!
Dari kejadian itu banyak hikmah yang bisa diperoleh. Pertama, jangan pernah berniat jelek karena Allah pasti nggak suka dan bakal menegur kita dengan cara-Nya. Kedua, ogah lagi-lagi deh ambil duit ditempat horor begituan, apalagi ATM yang nggak ada lampunya! Sekian.
Punya badan bongsor dan kaki jenjang ada enak dan nggaknya. Enaknya, tiap satu langkah kita sama dengan lari- lari santai orang normal, jadi nggak perlu membuang energi berlebih. Dan nggak enaknya adalah susah nyari celana panjang yang bener- bener cocok di kaki. Pasti ada aja salahnya, yang kependekkan lah, kegedean pinggangnya lah, sempit di paha lah, dan....mahal.
Kita pun nyerah lalu pindah lokasi ke Gale dan akhirnya nemu walapun hampir diusir sama siempunya toko karena udah jam 9 malem. Kita pun pulang dengan sisa energi yang nggak nyampe 40%, itu artinya butuh asupan makanan segera!
Niat jelek memang nggak bakal berakhir baik. Waktu lewat di daerah Sagan, tiba-tiba Nanda ngajarin aku untuk jadi anak jahat.
N : Mbel, kita nyari makannya ke tempat temenku yang jualan disono aja ya (sambil nunjukin lokasi target).
T : (masih kalem)
N : Bakal makan gratis deh kita mbel, yakin!
T: Serius mbel? (mata berbinar). Yok!
N : Tapi nyari ATM dulu ya jaga- jaga kalo dia lagi kesambet terus nggak ngegratisin kita.
Akhirnya kita pun tancap gas nyari ATM terdekat dan memutuskan berhenti di ATM Rumah Sakit Pa**i Ra**h. Lokasinya sih bisa dibilang agak horor. Letaknya disudut Rumah Sakit dan nggak ada lampunya! Awalnya sih nggak curiga sama sekali toh itu tempat umum yang pasti banyak penggunanya.
Masuklah Nanda ke ruangan misterius itu (ATM). Lumayan lama sih dan aku pun sempet mikir apa iya Nanda pingsan atau jangan-jangan dia menguras semua duit yang ada di ATM? Ini adalah tindakan kriminal dan aku harus mencegahnya! Eh tiba-tiba kepalanya nongol dari pintu ATM.
N: Kartu ATM-ku ketelen mbeeeeeel
Dengan keadaan lapar akut, kami berdua ngutik- ngutik mesin uang itu macam komplotan perampok. 3 menit ditunggu, duit dan kartu ATM nggak keluar. 5 menit, kita mulai panik. 10 menit belum ada kemajuan juga akhirnya aku nekat manggil Security minta bala bantuan.
Nanda bolak-balik nelponin Call Center tapi apadaya mungkin karena sudah malam maka mbak operatornya lebih milih bobok cantik daripada ngelayani telpon dari fans-fansnya. Bego, ini orang lagi panik tudemaks!
Saat berhasil nyambung dan baru ngobrol sebentar, raut muka Nanda bukannya bahagia atau sujud syukur sekalian eh malah pasang ekspresi nahan pup gitu.
N: Abis pulsa mbeeeeel
T: (tepok jidat Security)
Masalah satu belum selesai kok ya ada aja. Kita salah apaaaaaaa (elus-elus weteng kencot). Akhirnya setelah berhasil menghubungi Call Center melalui telpon Rumah Sakit, kita lega dan bergegas pulang dengan pikiran dan perut yang galau.
Kita yang berniat pulang pun berbalik arah ke TKP dengan penuh harap siapa tau duit dan kartu ATM nya keluar dengan tiba-tiba. Eh ternyata ada 2 mas-mas di ATM itu (sebut saja Mas 1 dan Mas 2), yang satu nunggu diluar, yang satu lagi di dalam.
N: Mas hati-hati loh ATM ini barusan memakan korban jiwa! Sebuah kartu ATM tertelan dan tidak diketahui dimana keberadaannya!
M1: Serius mbak? (dengan gugup si Mas 1 nyamperin temennya yang lagi ngorok di ATM). Men, ATM nya lagi error nih!
M2: Error apaan? Lah ini aku transaksi sukses kok.
T: Iya coba kita tunggu aja mas, kartunya nanti bakal keluar apa nggak (dengan tampang sok cool).
Kita berempat diam penuh hikmat menyaksikan detik-detik menjelang keluarnya kartu ATM si Mas 2 tadi. Dan, kartunya pun keluar dengan elegan!
T & N: Kooooook????? (pingsan)
Kita berdua jalan ke parkiran dengan terseok-seok penuh kepasrahan dan sakit hati mendalam. Kenapa Dewi Fortuna hari ini gak membuntuti kita. Apa dia lagi berantem sama pacarnya jadi dia pengen menyendiri dan ngelupain tugasnya melindungi gadis-gadis lemah seperti kita berdua ini?
T: Duh, kayaknya ini gara-gara kita niat makan gratis deh mbel.
N: Iya kali ya, udah makan nggak dapet, eh kartu ATM ketelen. Apes! Ditambah lagi kok kartu ATM Masnya nggak kenapa- napa sih tadi? Mesinnya pilih kasih!
Dari kejadian itu banyak hikmah yang bisa diperoleh. Pertama, jangan pernah berniat jelek karena Allah pasti nggak suka dan bakal menegur kita dengan cara-Nya. Kedua, ogah lagi-lagi deh ambil duit ditempat horor begituan, apalagi ATM yang nggak ada lampunya! Sekian.
Selasa, 08 Oktober 2013
Banda Neira- Berjalan Lebih Jauh
Banda Neira! Awalnya aku tahu duo akustik ini (mereka maunya disebut band) dari hasil blogwalking ke tumblr-nya Masgun.
Akhirnya iseng-iseng searching dan download beberapa lagunya dan taraaaa apik! Iya, nampaknya telingaku sudah klop dengan genre musik Folk begini. Dominan gitar akustik, sedikit harmoni dari xylophone yang memberikan ketenangan dan membawaku berimajinasi pada musik yang teduh.
Dari 4 judul lagu yang sudah di-download, yaitu Berjalan Lebih Jauh, Hujan di Mimpi, ke Entah Berantah dan Esok Pasti Jumpa. Semuanya bagus! Dan jika harus memilih, lagu Berjalan Lebih Jauh punya nilai lebih. Liriknya yang simpel, berhasil memberi energi kepada yang mendengarkan.
Berjalan Lebih Jauh
Bangun,
Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur
Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama
Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama
Ananda Badudu dan Rara Sekar, personel Banda Neira ini memang berbakat pun "magic"! Band ini adalah salah satu hasil dari proyek keisengan disela- sela kesibukkan mereka. Padahal lokasi partner ini saling berjauhan, Bali-Jakarta.
Ananda Badudu yang seorang warta berita dan Rara Sekar yang seorang aktivis sosial, mampu mengotak-atik kata dan nada menjadi begitu apik. Yap, asal-usul terbentuknya band ini bisa dibilang unik dan ini juga salah satu daya tarik yang kudapat.
Komposisi musik yang sederhana menjadi tak sederhana saat kedua orang hebat ini bersatu. Salut! Dan sejak menemukan musik mereka, Payung Teduh pun sekarang punya saingan.
Nah, untuk tahu lebih dalam tentang Banda Neira, bisa cek tumblr mereka disini. Happy stalking, guys!
Sabtu, 05 Oktober 2013
Sesederhana Temu
Lagi rindu kumpul
sama temen-temen sepergembelan jaman kampus pake banget dan ini gak pake bohong.
Terakhir ngumpul ya waktu buka puasa
bareng, ngalor- ngidul wiskul ke Gubug Pasta sama ngepizza di Nanamia. Dan hari ini
nambah satu lagi dari kita sudah berhasil merampungkan kuliahnya di Akademi (Militer)
Akuntansi tercinta. Selamat HIPOOOO. Artinya, pencocokan jadwal ngumpul pun pasti
tambah susah.
Waktu buat ketemu
berasa tambah mahal sekarang. Hari Senin sampe Jumat pada sibuk, Sabtu- Minggu
juga pada punya acara masing- masing, atau sekalinya nemu jadwal kosong eh
dompet juga lagi pada kosong.
Dan akhirnya
semalem rindu terlampiaskan dengan jalan berdua doang sama Nanda, muter- muter
nyari barang dan berlabuh ke wiskul. Keluar dari habis magrib dan makin malem
ya obrolan udah makin berat. Ngomongin masalah kuliah, kerjaan ke depan, sampe ke
doi masing- masing yang ternyata sifatnya mirip. Hal sederhana saat nemu waktu
buat saling cerita begini yang sebenernya mahal buat di dapet.
Duh, beneran rindu
untuk bisa tiap hari ngobrolin hal kecil bahkan tergakpenting sekalipun kayak
jaman kuliah dulu. Temu rumpi tiap hari, ngantin bareng atau sekedar
dadah-dadah heboh di lorong kampus.
Memangnya, kalau
semakin kita dewasa itu artinya semakin sedikit waktu untuk ngumpul
sama temen- temen ya? Kok kita makin gak pinter membagi waktu sih? Masa kita
kalah sama anak SD yang bisa bagi waktu buat sekolah, jam tidur siang, main
sama temen, ngaji ke TPA, ngerjain PR, dan jam tidur malem dengan
jadwal yang tertata rapih pfft.
Jadi, hal sesederhana temu disaat rindu itu beneran priceless ya? Iya. Dan aku mau belajar membagi waktu sama anak SD dulu deh, supaya pinter. Bye~
Jumat, 04 Oktober 2013
Random me part sekian
Pagi ini aku
bahagia, tak lama kemudian bisa sedih sejadi- jadinya
Kala ini aku
sangat mencintai, tapi seketika muncul rasa benci
Terkadang rasa rindu
begitu menggebu, lalu mati-matian ingin melupakan
Atau disaat aku
begitu berharap, bisa mendadak putus asa begitu saja
Perasaan ini bisa
dengan mudah dibolak- balik oleh-Nya, kan?
Lalu, aku mencoba
bergerak mengikuti tarikkan dan uluran yang penuh rahasia
Mengikuti ke arah
mana nantinya akan dibawa, berusaha menikmati, mengikhlaskan diri, mencintai
apa yang akan dijalani
Karena apa dan
bagaimanapun itu nanti, pasti itulah yang terbaik dari sekedar rasa "ingin" yang manusiawi
Langganan:
Postingan
(
Atom
)